Well, tadi malem itu waktu gw bbman menjelang balik kantor sama abang gw eh tiba - tiba pada saat detik dimana gw uda rada lupa sama si uda yang baik itu, tiba - tiba abang gw bbmin gw dan bilang si uda titip salam buat gw, maka detik itu gw gak langsung bales, mungkin abang gw becanda fikir gw, karena abang gw itu emank terkenal dengan jahilnya yang naudzubillah. Ok kemudian gw tetep asyik ngobrolin hal lain sama abang gw tanpa nanggepin kata - kata abang gw soal salam si uda itu karena kalo sampe gw tanggepin tu kata - kata abang dan itu beneran cuma becanda, maka matilah awak di cengin abis - abisan. Tapi akhirnya si abang bbmin gw lagi ngalihin pembicaraan kita & bilang lagi kalo si uda titip salam katanya, kali ini gw liat pake ditambahin gambar hati lagi, aduh gila nih abang gw makin eror aja, meski ada sesuatu di hati gw yang gw rasain waktu baca tu bbm, tapi gw mencoba mengendalikan hati gw, mencoba setenang mungkin dan jangan sampai tercelup dalam euphoria yang masih belom jelas. Well gw dengan cincay bilang, "salam aja buat I*h*" gw ketik nama adiknya yang bungsu yang gw kenal dengan baik dan gw sayangin. Hah, iya gw emank kangen sm tu anak, maklum tu anak seumuran sama adik bungsu gw jg. Gak tahu dech uda berapa bulan gw gak ketemu tu anak. Ya semenjak banyak hal yang terjadi antara gw dan mereka, gw memang memutuskan untuk bener - bener disappear dari kehidupan mereka buat kebaikan bersama. Meskipun dengan konsekuensi mungkin nama gw gak pernah bersih dimata mereka. Tapi gak apa - apa, buat gw yang penting adalah penilaian Alloh, gw udah pasrah mau dinilai negative sama orang, yang penting Alloh tahu kalo gw gak seperti yang oran - orang fikirkan. Toh membela diri juga belum tentu baik buat gw, jadi ya dipasrahkan aja. OK, balik lagi ke soal bbm itu, malem itu gw tiba - tiba kepengen nangis, karena gw keingetan gitu sama dia, meski tiap malem juga gw masih keingatan sama dia, tapi yang tadi malem itu dalem banget rasanya, gw mungkin bodoh karena gw selalu gak bisa langsung buang perasaan gw sama orang, biarpun mungkin orang tersebut udah lupa sama sekali sama perasaan yang pernah dia punya buat gw. Ini terjadi bukan cuma ke si uda aja, tapi juga ke mantan gw yang lalu, si amie, ahahaha, mesi pada akhirnya gw sama amie balikan lagi dan jadian lebih lama daripada waktu kita zaman SMA, tapi yah awalnya juga gw ngerasain hal yang sama kyk waktu ke amie. Meski pada akhirnya gw sama amie juga putus lagi, karena kita putus dalam keadaan yang masih sangat amat saling sayang dan gak ada masalah ribet yang mengekor, makanya sampai detik ini gw sama amie masih keep contact dan berhubungan baik terus, bahkan kadang kita masih sama - sama refleks manggil "YANK", hahahah. Sekarang sih masih boleh yah, secara gw sama amie juga masih sama - sama jomblo, tapi klo nanti salah satu diantara kita uda punya pacar, ya maka dengan berat hati gw atau dia gak bisa manggil "YANK" lagi. Kadang kefikiran, boleh gak yah kita balikan aja gitu tanpa mikirin perasaan bonyok gw yang gak suka sama hubungan gw sama amie, bukan karena amie adalah cwok yang gak baik 2 loh yh, amie itu cowok baik - baik, cuman ya bonyok yang tahu track record gw sama amie waktu zaman SMA akhinya jadi anti pati gitu sama dia, meskipun gak ngemusuhin. Amie itu pernah jadi bagian terindah dalam hidup gw
, kita yang sering ketawa ketiwi bareng, bahkan nangis bareng, gw yang selalu support dia saat dia ada dalam kondisi yang need much support gak kyk sekarang, bayangin dulu gw bisa banget memposisikan diri gw kalo jadi amie, kayak waktu amie belom kerja, gw bener - bener ngedo'ain dia lewat sholat apapun dan ibadah apapu, karena gw pengen dia kerja, dan akhirnya dia kerja meskipun gw gak bilang klo dia bisa kerja karena do'a gw, karena disana ada do'a mama nya yang super lembut itu, bapak nya, adik -adik manisnya, dan juga temen - temen baiknya, tapi paling nggak gw bisa buktiin sama dunia kalo gw dulu pernah dan bisa sangat tulus sama orang yang itu amie, karena gw gak ninggalin dia dan terus ada disisi dia saat dia dalam masa - masa sulit. Ah, amie maafin aku yang pada akhirnya pergi dari hati kamu setelah kamu bahagia dan lewat dari masa sulit itu. Tapi perlu kamu tahu mie, aku gak pernah berubah, aku tetap aku yang care sama kamu baik dalam senang maupun susah dan hal itu udah teruji saat kita masih bersama. Makasih juga kamu masih tetep care sama aku as much as when we were togehter :D
Tampilkan postingan dengan label Nostal Gila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nostal Gila. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Agustus 2011
Jumat, 05 Agustus 2011
Things end but memories last forever
Frankly, aku tak terlalu suka dengan judul postinganku hari ini tapi ini relevan dengan keadaanku. Yapz Things end, memang semuanya sudah berakhir, aku dan sosok pria yang konon katanya berniat menikahiku itu memang sudah berakhir, tidak ada lagi komunikasi diantara kami yang terjalin lagi. Sebut saja aku pencundang, karena aku lari dari dirinya karena aku tak sanggup untuk tetap memendam perasaan yang mungkin cinta, sementara aku bahkan diapun tahu, bahwa perasaanku padanya tidak akan membuat kami melaju ke gerbang pernikahan. Mungkin aku terlalu muda untuk bicara dan memikirkan tentang perinkahan, tapi bagiku sekarang adalah aku hanya ingin jatuh cinta kepada sosok laki - laki yang hanya akan menjadi pendamping hidupku saja nanti. Well, memang bukan dia yang akhirnya bisa menjadi sosok suami bagiku nanti, karena biarpun kami punya perasaan yang sama tapi kami juga perlu memikirkan perasaan orang - orang disekitar kami, kami punya keluarga, punya teman yang tentu tidak bisa diabaikan perasaannya. Katakanlah saat ini aku yang egois, setelah sebelumnya aku mengalah untuk mengakhiri hubungan kami. Aku telah menjadi sosok egois sekarang, egois untuk menjaga kesehatan hatiku, egois untuk tidak membiarkan hatiku terluka lagi, egois dengan cara menjauhkan hatiku dari apa - apa yang bisa membuat hatiku luka kembali. Panggil saja aku si pemutus tali silaturahmi, karena kini aku menjauhinya, mengganti no ponselku, menutup akun FB ku dan tidak menampakan batanghidungku didepan dia, tapi sesungguhnya selalu ada namanya dalam setiap bait - bait do'aku. Kini semuanya memang sudah berakhir dan berlalu, namun kenangan tentang aku dan dia tetap terngiang setiap saat, bahkan ketika aku melewati tempat - tempat favorite yang sering kami kunjungi semasa masih bersama, meski kini aku tak berharap lagi kembali dengannya, tapi selalu ada mendung yang menggelayuti mataku setiap aku terkenang akan dirinya.
Ya, as i told before Things end but memories last forever.
Sesungguhnya aku ingin bangkit, memulai hidup baru tanpa bayang - bayang masa lalu, tidak dengannya tidak juga dengan orang - orang sebelumnya, sebut saja aku trauma ya trauma untuk memulai kembali suatu hubungan yang tak tentu arahnya, hubungan yang bahkan dalam kacamata agamaku sendiri tak ada dikamusnya. Tapi aku sungguh merindukan sosok lelaki yang bisa menjadi teman hidupku di dunia dan bisa berkumpul kembali di Syurga Nya, seorang lelaki yang bisa menjadi imamku, kakak yang bisa membimbingku menuju ridhoMu, seorang lelaki yang bisa menjadi kekasih yang romantis bagiku, seorang lelaki yang bisa memberiku pelukan hangat ketika aku merasa kelelahan menghadapi liku hidup yang terkadang kejam, seorang lelaki yang bisa menjadi sosok ayah yang hebat bagi anak - anak kami nantinya, yaaa aku memang merindukan sosok seorang suami!!
Mungkin ini tak lazim ada dalam fikiran seorang gadis berusia 19tahun sepertiku, namun sungguh aku menginginkan mengahbiskan seluruh sisa hidupku dengan lelaki terbaik pilihan Allah dalam bingkai pernikahan yang di ridhoi Allah, dengan tujuan menggenapkan dinn. Aku tak mau lagi terjebak dalam cinta semu yang arahnya tak jelas yang hanya mempermainkan perasaan ini saja, aku sungguh menginginkan pinangan dari seorang lelaki bertanggung jawab yang sangat mencintai Mu dan mencintaiku hanya karena Mu ya Rabb.
Entah kapan akan kau pertemukan aku dengan lelaki itu, aku tak bisa menerka - nerka kemana arah takdir membawaku. Memories last forever but i think will be better if you wash my brain, and make me lost my bad past.
Ya, as i told before Things end but memories last forever.
Sesungguhnya aku ingin bangkit, memulai hidup baru tanpa bayang - bayang masa lalu, tidak dengannya tidak juga dengan orang - orang sebelumnya, sebut saja aku trauma ya trauma untuk memulai kembali suatu hubungan yang tak tentu arahnya, hubungan yang bahkan dalam kacamata agamaku sendiri tak ada dikamusnya. Tapi aku sungguh merindukan sosok lelaki yang bisa menjadi teman hidupku di dunia dan bisa berkumpul kembali di Syurga Nya, seorang lelaki yang bisa menjadi imamku, kakak yang bisa membimbingku menuju ridhoMu, seorang lelaki yang bisa menjadi kekasih yang romantis bagiku, seorang lelaki yang bisa memberiku pelukan hangat ketika aku merasa kelelahan menghadapi liku hidup yang terkadang kejam, seorang lelaki yang bisa menjadi sosok ayah yang hebat bagi anak - anak kami nantinya, yaaa aku memang merindukan sosok seorang suami!!
Mungkin ini tak lazim ada dalam fikiran seorang gadis berusia 19tahun sepertiku, namun sungguh aku menginginkan mengahbiskan seluruh sisa hidupku dengan lelaki terbaik pilihan Allah dalam bingkai pernikahan yang di ridhoi Allah, dengan tujuan menggenapkan dinn. Aku tak mau lagi terjebak dalam cinta semu yang arahnya tak jelas yang hanya mempermainkan perasaan ini saja, aku sungguh menginginkan pinangan dari seorang lelaki bertanggung jawab yang sangat mencintai Mu dan mencintaiku hanya karena Mu ya Rabb.
Entah kapan akan kau pertemukan aku dengan lelaki itu, aku tak bisa menerka - nerka kemana arah takdir membawaku. Memories last forever but i think will be better if you wash my brain, and make me lost my bad past.
Selasa, 02 Agustus 2011
It's All About My best Ex
Katakanlah aku cuma sekedar mengenangnya aja, mengenang ala kadarnya saja. Sekedar mengenang bahwa dia pernah menjadi sosok calon suami yang begitu dewasa bagiku, dengan pembawaan tenang dan penampilan yang menunjukan kelasnya. Sosoknya yang hangat, senyumnya yang selalu mengembang saat dia menggoda ku jika aku sedang bicara padanya tapi aku tak memandangnya. Hehehe, aku masih ingat betul bagaimana caranya memperlakukanku saat kami hendak naik taksi bahkan bajay sekalipun, dia benar – benar membuat aku merasa special. Siapa sangka dibalik sosoknya yang pendiam dimata orang – orang sekitarnya, dia punya selera musik yang tak jauh berbeda denganku, aku masih ingat dia pernah bilang “kalau kamu masih ragu sama aku, dengerin aja lagunya yellow card yang only you” aku mengernyitkan dahiku, karena aku tahu isi lagu itu kurang relevan dengan keadaan kita, which is aku ini pacar barunya bukan masa lalunya, tapi aku tetap menghargainya, mungkin maksudnya adalah ia ingin aku tahu bahwa, aku adalah satu – satunya wanita yang ia cintai –saat itu-. Selama kami berpacaran, aku menjadikan lagu itu sebagai ringtone ku. Jadi sekarang jika aku mendengar lagu itu, maka aku terkenang akan sosok dirinya juga dengan momen – momen indah yang tiba – tiba menari – nari begitu saja dibenakku saat lagu itu mengalun, pun dengan lagu – lagu adele. Sebenarnya lagu adele lebih punya power kenangan yang besar bagi dia dan mantannya sebelum aku, tapi entah kenapa aku selalu merasa bahwa Adele itu adalah dia sekali, sementara Secondhand serenade itu adalah Amie sekali.
Amie adalah my best ex boyfriend ever, sosok yang selalu jadi orang terakhir yang mau mengerti aku, mengalah, mengajarkan aku apa itu arti ketulusan dalam menjalin sebuah hubungan. Sosok yang tidak banyak menuntu terhadapku, dan malah lebih sering aku tuntut untuk lebih dewasa menghadapi aku yang childish padahal umur kita hanya terpaut satu tahun, dia satu tahun lebih tua dariku. Amie adalah sosok yang merepresentasi cinta pertama ku semasa SMA, meski bukan pacar pertama tapi Amie adalah sosok yang bias membuat aku benar – benar merasakan apa itu cinta, cinta yang tak menuntut balas dan hanya memberi. Itulah yang sempat aku jalani selama SMA dulu, mencintai Amie tanpa berbalas darinya, lalu kemudian kami putus dan aku tetap mencintainya, hingga saat ia sadar bahwa tak ada yang mampu mencintainya sehebat itu selain aku, maka akhirnya dia memintaku kembali saat aku sudah hijrah ke Jakarta dan baru putus dari sahabatnya. Kami kembali berpacaran, kali ini kami serius, ingin membawa hubungan kami ke gerbang pernikahan, kami tidak bermaksud menikah cepat, tapi kami berniat untuk menikah setelah dia benar2 settle secara financial, dalam arti kapanpun kami menikah pacarku tetap dia, dan pacarnya tetap aku, kami sepakat untuk memulai semuanya dari awal, tapi ternyata ibuku tidak menyetujui kami dengan alasannya sendiri, hingga akhirnya aku istikharoh dan sampailah aku pada keputusan untuk putus dengannya, dan tak lama aku diperkenalkan pada sosok yang aku ceritakan di atas sebelum Amie tadi.
Aku memposting tulisan ini semata – mata karena aku sedang terkenang mereka saja, tidak ku tulis semua memang soal mantan – mantanku, aku hanya menulis tentang 2 sosok mantan kekasih dan mantan calon suami terbaik yang pernah aku miliki.
Dimanapun kalian, aku harap kalian baik – baik saja, meski aku tak mau mendahului takdir, tapi aku memang berharap kita memang tidak pernah dipersatukan lagi dalam satu hubungan selain pertemanan saja. Karena bagiku, mengapa kita dipisahkan sekarang adalah karena Tuhan Maha Tahu bahwa aku tak baik untuk kalian. Semoga Allah memberikan kalian dan aku pasangan yang terbaik dari Sisi-Nya. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)