Tampilkan postingan dengan label Cerpen Abdi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Abdi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

I

"KLIK" ku akhiri perbincangan kami sore itu lewat ponsel, ada kesal yang menggelayuti hatiku, mendung mengambang di pelupuk mata. Jariku masih mampu ku kuat - kuatkan untuk menulis kata - kata yang terkesan manis dan bahagia. Meski sesungguhnya aku ngilu, ya ngilu diris sembilu rindu yang entah sudah sejak kapan menggumpal di hatiku. Mas pasti sedang lelah, ya begitu selalu fikirku, ia sibuk hingga ia tak mau barang sebentarpun mengunjungiku. Tapi sisi lain egokupun mencuat, lalu mengapa untuk sekedar menemaniku ngobrol di telpon saja pun Mas nampak ogah?ia hanya membiarkanku menabung rindu lewat teks - teks menyedihkan akhir - akhir ini saja. Ah, Mas tahukah kau?aku setengah mati berusaha mengerti dirimu dan kehectican yang kau jalani sekarang, kadang aku tak mengerti mengapa untuk sekedar menyapaku dipagi haripun kau enggan lakukan?apa lagi menelponku ketika malam menjelang dan aku hendak tidur, mana mau kau menelponku hanya untuk mengucapkan selamat tidur untukku. Manja? ah tidak kurasa, aku begini karena bagiku, telpon & pertemuan denganmu kini menjadi barang paling mewah yang bahkan jadi terlalu sulit untuk ku dapati, entah harus ku bayar dengan apa. Satu kota saja semua hal itu nampak begitu mewah bagiku, apa lagi bulan depan dan seterusnya, saat waktu mulai dengan bengis menyayati hatiku dengan rindu yang menggunung untukmu, sementara temu dan suaramu yang baik - baik saja tak mampu ku dapatkan. Mas, satu - satunya hal yang dapat menghiburku jika dalam keadaan seperti ini hanyalah pesanmu tempo hari ,

"Tak apa kita jarang bertemu, yang penting secepatnya kita bisa bersama - sama terus"

Ah, ya. Aku menguatkan diriku sendiri dengan kata - katamu itu, karena aku tahu kesibukanmu selama ini tak lain adalah untuk memenuhi impian kita 2tahun mendatang, demi beberapa mimpi yang kita miliki dan sedang coba kita wujudkan. Iya kan, Mas?

Rabu, 30 Mei 2012

Jika Tak Disini


Aku menatap penuh syukur dan takjub sosok pria yang telah mengucap ijab qabul atasku pagi tadi di depan khalayak ramai. Sosok yang ku kenal sudah bertahun – tahun sebagai kakak tingkatku di kampus, namun selama bertahun – tahun itu ia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku. Barulah ketika perkenalan kami menginjak tahun ke lima, ia datang ke rumahku dan meminta izin untuk menikahiku kepada kedua orang tuaku. Aku dan keluargaku tentu kaget bukan main dengan maksud mas Tio, meksi keluargaku juga sudah sempat mengenal Mas Tio sekilas. Tapi kemudian Bapakku yang sudah kadung jatuh cinta kepada sosok Mas Tio yang cerdas dan sederhana mengiyakan lamaran Mas Tio yang dating tanpa membawa seserahan mahal, ya aku masih ingat, Mas Tio hanya membawa sedus kecil cheese cake favouriteku, ya iya memintaku hanya dengan sekardus kecil cheese cake. Tidak, mas Tio bukannya pelit, tapi karena saat itu hanya itu yang bisa ia berikan kepadaku, itupun adalah hasil dari gaji pertamanya. 2bulan kemudian, pernikahanpun rampung disiapkan. Ah ya, tepatnya pagi tadi, Sosok Satyo Saputro itu mengucapkan ijab Kabul dengan lantang tanpa diulang. Sosok yang jadi terlihat begitu tampan di mataku setelah kami syah menjadi suami istri. Saat ini aku sedang menatapnya, menatapnya yang sedang tertidur pulas, mungkin kelelahan setelah resepsi sederhana yang kami gelar seharian ini.
Saar sedang menatapnya lekat – lekat, sosok berkulit putih itu membuka matanya, ah aku kepergok rupanya, ah ya aku malu sekali, karena kami menikah tanpa melewati masa pacaran jadi apapun yang terjadi diantara kami setelah menikah rasanya masih canggung, bahkan ketika pandangan mata tak sengaja beradu saja, kami berdua langsung salah tingkah, malu rasanya.
“Loh, km gak tidur dik?” Tanya mas Tio yang memang selalu memanggilku adik sejak sebelum kami menikah.
“belum mas, aku belum ngantuk. Eh mas kenapa bangun?keganggu yah sama aku?” Tanyaku kemudian.
“hehehe, loh kok keganggu, nggak kok dik, mas Cuma berasa diliatin aja sm bidadari, makanya mas bangun, mau liatin balik bidadarinya, kali aja bisa diajakin pacaran, hahahah” katanya genit mencubit hidungku. Aku?tentu saja pipiku bersemu merah, dan setelah itu, hehehe, tebak sajalah sendiri.
Pagi ini, pagi hari pertama aku bangun dengan status sebagai istri orang. Aku yang masih belum terbiasa mengurusi orang lain, pagi ini dipaksa untuk membiasakan diri mengurusi suamiku sendiri, ya meskipun hari ini ia masih dalam masa cuti di kantornya, tapi paling tidak aku harus menyiapkan sarapannya. Mas tio yang ternyata sudah bangun sedari tadi malah sudah Nampak di dapur rumah Ibuku sedang menyiapkan sarapan. Ah malunya aku, ku hampiri suamiku yang terlihat sedang memanggang roti.
“Aduh, mas. Maafin aku yah, aku udah sett alarm padahal tadi biar bisa bangun duluan siapin sarapanmu” ujarku sambil memluknya dari belakang.
“Gak apa – apa sayang, udah yuk sarapan sama Mas sekarang” Ujarnya sambil membalikkan badan dan menuntunku ke meja makan untuk sarapan dengannya. Satu persatu orang rumah ibu ku berseliweran dan meledeki kami dengan siulan – siulan iseng, tapi kami ya namanya pengantin baru tetap saja asyik sarapan berdua.
“Dik, hari ini mau ikut Mas gak?” Tanya Mas Tio sambil menyuapkan sepotong roti ke mulutku.
“Kemana mas?” Tanya ku dengan mulut penuh dengan roti.
“Kita lihat kontrakan dekat kantor Mas. Gak besar sih, tapi nyamanlah insyaAllah. Kamu gak apa – apakan kita ngontrak dulu sampai tabunganku nanti cukup untuk beli rumah?” Tanya Mas Tio, belum sempat ku jawab, rupanya ibuku yang sedari tadi mengamati kami menimpali ucapan Mas Tio.
“Loh, Rani itu kan anak bungsu disini, jadi ndak perlu lah kalau harus ninggalin rumah ini dan pindah ke tempat kontrakan yang ndak sebagus rumah ini lah, yo” ucap ibu yang kemudian membuat aku dan Mas Tio agak kaget. Mas Tio buru – buru membersihkan mulutnya dan minum.
“Emm,, maaf sebelumnya Bu, tapi ini biar saya dan Rani jadi ndak harus tinggal terpisah saja bu, lagi pula kontrakannya dekat kok dengan kantor saya, gak lebih bagus memang dari rumah ini, tapi InsyaAllah nyaman buat kami berdua bu.” Ujar Mas Tio hati – hati namun sopan. Ibu, meski terlihat tidak rela tetap diam dan malah menatapku.
“Bu, tenang aja, kalau pun Rani udah gak tinggal disini lagi pu, Rani akan tetap sering – sering main ke rumah Ibu, nginep disini. Rani kan tetap anak Ibu juga, hehehe” Ujarku sambil menghambur memeluk Ibuku.
Akhirnya siang itu aku memutuskan untuk pergi bersama suamiku melihat kontrakan yang ia maksud.
Rumah petak rupanya, sebuah rumah kecil yang bahkan antara dapur dan ruang tamu saja tak bersekat, hanya ada satu kamar mandi dan satu kamar tidur. Tak ada AC atau barang mewah lainnya. Ya semua Nampak begitu sederhana tapi aku merasa nyaman – nyaman saja. Akupun langsung mengiyakan kepada Mas Tio bahwa aku bersedia untuk tinggal dengannya disini. Setelah puas melihat – lihat rumah yang akan kami tinggali nanti, ia bertanya padaku, “Jadi, istriku yang cantik, mau kemana sekarang?” aku, tentu saja tak kehilangan akal, ya aku ingin masa – masa kita bisa berdua ya harus dimanfaatkan untuk pergi kemana saja berdua, dan melakukan hal – hal yang selalu ingin ku lakukan dengan pasanganku yang dulu masih sebatas angan. Oia aku ingat akan satu hal yang paling ingin aku lakukan sejak dulu dengan suamiku.
“Ke mall yuk mas, ke toko buku, kita gandengan tangan sepanjang jalan, udah halal ini kan?!” ujarku menggebu – gebu. Mas Tio hanya tertawa – tawa kecil sambil keheranan.
“Loh, kenapa mesti ke toko buku coba?kenapa gak nonton aja yuk?terus kalo soal gandengan mah, gak kamu minta juga, aku pasti gandeng istriku terusku” Ucapnya smbil tersenyum dan membuatnya semakin lucu karena matanya bergaris saat ia tersenyum.
“Gak! Nanti aja nontonnya, sekarang aku maunya itu, ke toko buku, beli beberapa buku atau Cuma baca aja, terus kita gandengan sepanjang jalan, yeay!” ujarku sambil tersenyum lebar.
“Sayang, emangnya kenapa sih?kok kamu ngotot banget pengen kyk begitu?tell me why, dear” Tanya Mas tio yang masih penasaran.
“hmm, Mas Mau tau aja apa mau tau banget?” tanyaku mengerjainya
“Idih, apaan sih kamu kok kepo?” balasnya membuatku mati kutu, ya niatku mengerjainya malah aku yang kena, hahahah, ah ya Mas Tio memang begitu dalam kalemnya dia, ada sosok lucu disana.
“hahaha, iyadeh pinter sekarang becanda alaynya, hahaha, hmmm aku tuh dari dulu sebelum nikah, tiap kali ke toko buku aku selalu iri ngeliat suami istri muda kyk kita jalan di mall atau toko buku sambil pegangan tangan gitu, ihh aku ngiri banget!! Makanya aku sumpah serapah dalam hati, kalo nanti udah nikah aku mau kyk gitu sama suami aku.” Ujarku polos.
Mas Tio tersenyum penuh makna kepadaku, lalu mencium keningku.
“yaudah yuk jalan, hayuk, mau ke toko buku yang mana, my queen?” Tanya nya sambil menggamit lenganku. Akhirnya kami sepakat untuk pergi ke gramedia di salah satu mall besar di Jakarta, aku memintanya untuk naik busway saja, dan iapun setuju. Dan tahukah?selama perjalanan menuju gramedia itu, tak sedetikpun Mas Tio melepaskan genggamannya di tanganku. Semakin banyak tatapan mata yang menatap kami, akan semakin erat ia menggenggam tanganku. Ah, Tio suamiku. Kami terus bergenggaman tangan sambil melihat – lihat buku disana, tangannya berganti – ganti menggenggamku dengan buku, tapi tidak ia lepaskan hanya berganti – ganti saja. Dan aku bahagia. Puas berkeliling di toko buku itu, Mas Tio mengajakku makan.
“Mau makan apa sayang?eh ke foodcourt situ yuk, dik. Mie tariknya enak loh” katanya dengan expressi yang lucu.
“ih, gak mau, aku mau makan cheese cake aja mas.” Ujarku manja.
“Loh, mana kenyang sayang makan cheese kok doank sih, gini aja, kita ke foodcourt, aku pesen mie tarik, terus nanti aku pesenin kamu juga cheese cake, nanti kita makan di foodcourtnya yah.” Jawab Mas Tio mengajakku ke foodcourt. Meski agak malas, aku menurut saja padanya.
Kami duduk di foodcourt, dan pesanan mie tarik mas tio pun sudah tiba, tapi sepertinya ia lupa, sampai – sampai ia tidak juga memesankan cheese cake untukku. Aku manyun terus selama menemaninya makan, sampai saat di suapan ke 2 ia teringat.
“Astagfirullah, sayang. Aku lupa, kamu mau cheese cake yah? Kamu laper banget gak syang?” Tanya Mas tio
“yaudahlah Mas makan dulu aja, aku gak apa – apa” ujarku dengan wajah BT.
“Aduh sayang, maaf ya akunya lapar banget ini, oh iya gini aja sebelum aku beliin cheese cakenya, kamu makan mie aja yah ni sama aku berdua sayang” Ujar Mas Tio mencoba bergurau denganku. Aku yang saat itu sedang terlampau badmood tidak mau tahu dengan alasannya.
“Tauk ah, mas nih gimana sih orang istrinya lagi laper juga! Eh masnya malah enak – enakan duluan makan.” Ujarku mendengus kesal.
“Iya sayang maaf, aku laper banget soalnya, tadi aku sarapan kan sedikit, hmmm yaudah – yaudah ini aku cari cheese cake dulu ya, hmm dimana ya yang jual cheese cake di mall ini, yaudah ni kamu makan mie ku dulu aja biar gak kelaparan yah” Ujarnya sambil beranjak meninggalkanku dan mienya yang masih belum habis seperempatnya pun. Pelan – pelan ku lihat punggung tegap berkaos biru langit itu menghilang dari pandanganku.
30menit berlalu, sosok Mas Tio belum juga muncul juga, aku gelisah, yang aku fikirkan pertama kali adalah ya kemana Mas Tio?aku sudah lapar sekali, ku kirim bbm padanya.
“Mas, kok lama sih?beli cheese cakenya ke hongkong yah?”
Tapi tak juga ada balasan, berkali – kali ku PING!!! Pun tidak dibaca sama sekali. Ah baiklah ku putuskan untuk menelponnya setaelah pada menit ke 60 Mas Tio tidak muncul dihadapanku, ya rasanya amarahku sudah sampai ke ubun – ubun, kata makian sudah siap ku semburkan pada suamiku nanti ditelpon. Telponnya diangkat..
“Hallo, Mas. Ihh dimana sih?beli cheese cakenya ke hongkong yah? Sejam donk masa beli cheese cake aja!” Ujarku menggebu – gebu, tapi kemudian terdengar suara yang begitu gaduh disana,
“Maaf Mba, ini Mba istrinya yang punya HP yah?ini kebetulan yang punya HP lagi di UGD sedang dilakukan operasi karena tadi jantungnya ditusuk sama pencopet didekat toko cake disebelah ATM itu” Ujar seseorang disebrang telpon sana. DEGH!!! Aku lemas seketika, tapi untunglah aku tidak kehilangan keseimbangan, segera ku Tanya dimana Mas Tioku. Tanpa fikir panjang lagi segera ku hubungi kerabat kami untuk segera dating ke RS tempat Mas Tio berada. Aku hancur, tapi tak sedikitpun air mataku keluar selama dalam perjalanan ke RS, aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Sesampainya disana, ku lihat beberapa orang yang tak ku kenal didepan UGD, seorang bapak paruh baya memegangi HP Mas Tio dan menghampiriku. Seolah mengerti bahwa aku istri Mas Tio, dia menepuk bahuku.
“Mba sing sabar ya, si Ma situ orang baik, Mba yang kuat.” Ujarnya dengan mata berkaca – kaca. Aku bingung bukan main.
“Pak ini ada apa sebenarnya?mana Mas Tio?mana?mana suami saya?” Tanya ku dengan air mata yang mulai meleleh. Ah ya mas Tio, mana Mas Tioku?
“Mana?mana Mas tioku?mana?” tanyaku dengan setengah berteriak, lalu seorang ibu dan anak perempuan kecilnya menghampiriku dengan berurai air mata.
“Mba, saya ingin berterimakasih sebelumnya, karena Suami Mba tadi sudah menolong saya dari upaya pencopetan didekat ATM, Ma situ yang menolong saya saat dia baru saja keluar dari toko kue dekat ATM itu, kejadiannya begitu cepat, Suami mba mencoba menghajar pencopet itu namun ternyata pencopet itu membawa pisau lipat yang akhirnya ditusukan ke tepat di dada kiri suami mba” ucap perempuan itu dengan suara begetar, aku?tentu saja seperti disambar petir disiang bolong, mendengar itu semua itu, ku arahkan pandangaku kea rah gadis kecil disamping ibu itu yang sedang asyik menikmati cheese cake kecil ditangannya, aku langsung merebut cheese cake itu dan tangiskupun pecah sekeras – kerasnya, lalu ku buang cheese cake itu ke lantai hingga berhamburan, gadis kecil itu menangis, aku tak peduli, yang ku pedulikan hanya suamiku, Mas Tioku. Aku membenci cheese cake, ya karena cheese cake Mas tio jadi harus mengalami semua ini, andai saja aku tadi tidak memintanya untuk membelikan cheese cake untukku, pasti keadaannya tidak begini. Lampu operasi pun padam, satu persatu orang – orang berseragam hijau itu keluar kamar operasi, aku segera berlari menghambur kea rah mereka.
“Dokter, bagaimana?bagaimana suami saya? Bagaimana Mas Tio?” Tanya ku dengan air mata yang deras turun. Dokter menatapku sebentar dan mengela nafas, lalu sambil membuka maskernya, iapun angkat bicara.
“maafkan kami Mba, kami sudah berusaha keras, tapi rupanya nyawa suami mba tidak dapat terselamatkan.” Ujarnya membuat pertahananku hancur, ia apa ini apa?kabar apa ini?aku seketika pingsan.
!5 menit aku tak sadarkan diri, ku buka mataku dan sudah banyak keluargaku dan mas tio yang dating, aku beranjak bangun mempertanyakan Mas Tioku.
“Ran, mau kemana kamu?”Tanya Bapak padaku saat melihatku beranjak dari tempat tidur rumah sakit.
“Aku mau cari Mas Tio, mau bangunin Mas Tio, dia belum makan, tadi baru makan mie sedikit, kasian dia.” Ujarku masih dengan air mata berlinang.
“Ran, sadar, nduk. Tio mu itu sudah tidak ada sekarang.” Ujar Ayah mertuaku.
Ku tatap wajah ayah mertuaku, tangisku pecah lagi semakin keras, aku berlari ke ruang UGD, tapi kemudain dihalangi oleh beberapa keluargaku.
“Ran, sabar. Saat ini jenazah Tio sedang diurus pemulangannya ke rumah, kamu pulihkan dulu kondisimu.” Ujar Bapakku kali ini.
Aku tidak bisa melawan tubuhku yang kembali lunglai menyadari bahwa MAs tioku kini sudah dipangkuan Yang Esa. “Tapi Mas Tio belum makan banyak tadi, pak, bu” gumamku selama dalam perjalanan pulang, atas permintaanku, ditengah jalan akhirnya aku ikut menumpang mobil ambulance dan duduk disamping jenazah suamiku, Mas Tioku yang gagah.
“Mas, maafin aku, ayo bangun, kita makan mie tarik lagi, sekarang aku gak akan minta mas belikan aku cheese cake lagi, nggak mas, kita makan mie tarik aja yah, ayo mas bangun makanya.” Ujarku dengan air mata yang terus berlinang, tapi sosok mas Tio yang kini sudah sangat pucat ini pun tak bergeming sedikitpun, hingga aku terus menggoyang – goyangkan badannya berharap ia terbangun dan hanya bergurau dengaku untuk pura – pura mati. Tapi ternyata aku salah, ya Mas Tioku yang tampan, yang gagah yang baru menikahiku 2 hari ini kini sudah terbujur kaku kembali ke Pemiliknya yang sesungguhnya. Bertahun – tahun aku mengenalnya, Tuhan hanya mengizinkan aku memilikinya 2 hari saja. Sungguh Tuhan lebih mencintainya dibanding aku yang baru 2 hari menjadi istrinya. Ya selamat jalan suamiku, Mas Tioku sayang, smoga kau ditempatkan ditempat yang layak disisi-Nya.
Aku Rani Anindya Saputro akan tetap mencintaimu dengan setulus hatiku seumur hidupku dan tetap hidup sebagai istrimu hingga waktunya aku menyusulmu, ya, jika tak disini, maka di akhirat nantilah kita akan bersama, selamanya Mas Tioku sayang.

Jumat, 18 Mei 2012

Lovely Latte (2)

Pagi ini rasanya aku enggan bangkit dari tempat tidurku, seluruh badanku sakit, mataku sembab. Ah, selalu saja begini butuh waktu lama untuk melupakan Ben dan kenangannya juga luka yang ia torehkan, tapi hanya butuh 1 hal kecil saja untuk membuatku mengingatnya kembali dan perasaanku terlukai kembali.
Tok..tok..tok..suara pintu kamarku diketuk, ada suara Mama ku disana.
"Za, bangun dulu sayang, ada temen kamu tuh di bawah" Ujar Mama setengah berteriak, mungkin tamu penting, eh tapi siapa teman yang pagi - pagi begini sudah datang ke rumahku?Rangga?ah iya pasti Rangga, eh tapi kalo itu Rangga, kenapa mama gak sebut nama langsung saja, toh mama kan sudah kenal rangga lama sekali. Ah, hoaammm kantuk masih menggelayuti mataku, badanku masih nyeri, tapi apa boleh buat, aku harus turun melihat siapa yang datang. Akhirnya ku turuni satu persatu anak tangga, Mama mengamatiku dari dapur yang turun dengan piyama bututku dan rambut yang acak - acakan.
"Eh, eh, eh itu anak perawan mau ketemu tamu kok kayak begitu sih?cuci muka dulu atuh, Za" Ucap mama menghampiriku.
Aku cuek saja melenggang sambil mengucek - ngucek mataku yang masih belekan. Mama nampak gemas melihatku dan kemudian menghampiriku sambil mencubit pipiku gemas.
"cuci muka & gosok gigi dulu sana, nyesel loh kamu nanti begitu liat siapa yang datang!" Ucap mama sambil berbisik. Aku menatap mama sebentar, sebelum kemudian aku melenggang kembali ke ruang tamu dan meninggalkan mama yang gemas melihat tingkahku. Hah, buat apa aku rapih - rapih segala, toh paling kalo bukan Rangga yang datang ya Felix, karena kalau sissy biasanya dia langsung naik ke kamarku. Aku terus melenggang ke ruang tamu dengan mata yang masih lengket, begitu aku sampai di ruang tamu, aku melihat sosok lain! Ya dari perawakannya sepertinya itu bukan Rangga atau Felix, ah siapa dia sepertinya aku kenal, mmm Ben?masa sih?laki - laki berpunggung tegap dengan tinggi sekitar 175 ini berdiri membelakangiku menatap ke arah taman aku sungguh - sungguh tidak mengenal siapa pria ini, dan jantungku nyaris copot ketika ia membalikan badannya ke arahku!! DEGH!!!!! Abe, ternyata itu Abe, Abe melihat ke arahku, ya ke arahku yang berpiyama butut, rambut yang terkuncir berantakan dan aaaakkkk jangan - jangan dengan belek yang masih bertengger di pelupuk mataku, aaaaakkk maluuu!!! Abe melempar senyum hangatnya kepadaku sambil perlahan - lahan mendekatiku, aku was - was, takut ia mencium aroma tak enak dariku yang betul - betul baru bangun, ku angkat tangan kananku, memberi isyarat untuk dia menyetop langkahnya agar tak terlalu dekat denganku, Abe nampak bingung.
"Stop be, tunggu dulu disini yah, I'll be back soon" ujarku dengan tangan kiri yang menutup mulutku lalu sejurus kemudian kabur ke kamar mandi dekat dapur, Abe?hah aku tidak tahu bagaimana ekspressinya ketika melihatku bertingkah seperti itu, yang jelas mama ku yang sedari tadi mengamati kami dari dapur tampak mengejeku, samar - samar ku dengar mama mendengus "Syukurin, bandel sih gak mau denger kata mama", aku tidak peduli, ku lihat wajahku dicermin, aaaakk!! berantakan, betul - betul berantakan, aku segera mencuci mukaku dan menggosok gigi, lalu merapikan kunciran rambutku yang tadi mirip orang gila. Ih kok bisa ya aku begitu pede melenggang menemui Abe, grrrrrr mengingatnya saja aku malu. Ah tapi sudahlah Abe sudah menungguku, aku segera bergegas ke ruang tamu lagi, ku tatap mama yang kembali meledek ku, aku memanyunkan bibirku lalu segera menuju ruang tamu.
"hey, be! kenapa - kenapa?Sorry tadi gue, emmm agak aneh, hehehe" Kataku sok polos. Abe menatapku, sambil terkikik pelan, membuatku salah tingkah, ah pipiku panas lagi.
Abe tak juga berhenti tertawa, aku semakin salah tingkah, ku lirik cermin matahari di ruang tamuku, waspada kalau - kalau penampilanku masih sekacau tadi pagi, tapi ah tidak kok, sudah rapi.
"Ih, Abe, lo kenapa sih, ngetawain apa?ada yang salah sama gue?" tanyaku dengan pipi panas.
Abe akhirnya menghentikan tawanya, dan mendekat ke arahku, aku kikuk lagi, ah apa-apaan sih dia ini? Abe menatap mataku lalu bertingkah seolah - olah hendak menyentuh pipiku, padahal ternyata dia mencubit hidungku gemas, lalu tertawa lepas!
"Hahahaha, Loza elo tuh yah aduh, kocak za, hahahah" Abe tertawa begitu lepas, renyah, bahunya berguncang - guncang, aku jadi ikut tertawa juga karena melihatnya tertawa seperti anak - anak. Tapi kemudian tawa kami terhenti saat sissy ternyata sudah berdiri didepan pintu rumahku, ia menatap kami nanar, aku nyaris tersedak mendapati sissy yang bediri dengan pipi yang lebam, matanya sembab, kontan aku langsung menghampirinya, menatapnya sejenak sebelum kemudian memluk sissy erat. Sissy sesenggukan dipelukanku, Abe nampak tak enak, aku membawa Sissy masuk, ku beri ia minum supaya ia tenang.
"Hmm, sorry kalau kalian keberatan, gw bisa pulang kok, kapan - kapan gw main kesini lagi ya Za" Ujar Abe merasa tak enak karena melihat sissy yang tak berkata sepatah katapun semenjak tiba, sissy hanya menangis. "gak, gak apa - apa kok be, gw gak apa kok be. Lo disini aja gak apa - apa" Ujar sissy yang nampak lebih tenang sekarang. "Lo yakin gak apa - apa sy? " tanyaku menegaskan jika tidak apa - apa abe tetap disini, Sissy hanya mengangguk pelan.
"Kenapa lagi sy?Jhon?dia lagi?" tanyaku mencari tahu. Sissy mengangguk cepat sambil menatapku nanar. "Ya Tuhan, kenapa lagi dia?eh wait, bayi lo gak apa - apa kan sy?" tanyaku kemudian, Abe nampak terkejut mendengar pertanyaanku, ya memang Abe belum tahu kalau ternyata sissy si cantik ini sudah menikah dengan pria asal Australia dan saat ini Sissy sedang mengandung 3 bulan. Ceritapun mengalir dari mulut mungil sissy yang kini terluka ujungnya, Jhon sang suami emang berubah menjadi pemabuk dan temprament semenjak sissy dinyatakan mengandung, hal sekecil apapun mampu membuat tempramen nya naik dan melampiaskannya ke sissy dengan memukuli perempuan cantik ini. Namun sissy tidak pernah bisa untuk melawan atau bahkan menghentikan perbuatan Jhon ini, sissy selalu bilang sissy mencintainya sehingga sissy merasa tidak perlu memperkarakan prilaku Jhon ini, sampai saat kemarin setelah kami pulang minum coffe bersama, Jhon mabuk berat di rumah mereka dan saat melihat sissy, Jhon langsung membabi buta memukuli sissy tanpa sissy tahu apa penyebabnya............

Rabu, 16 Mei 2012

Lovely Latte (1)

Pandangan kami beradu di sela - sela kerumunan orang - orang yang sedang menikmati penampilan band jazz yang sedang menggelar mini concert di sebuah coffee shop milik salah satu personil mereka. Ah, hanya beberapa detik saja, lagi pula akupun sudah lupa bagaimana jelas raut wajahnya, iya semua karena aku tidak mengenakan kacamataku. Aku menenggak caramel machiatoku pelan sambil mengobrol ringan dengan teman - temanku.

"Eh, tadi arsitek yang mau ngedesign cafe kita siapa jadinya?" Tanya Rangga salah satu temanku memulai pembicaraan.
"Loh katanya mau pake temenya Felix yang anak Aussie itu, emm siapa namanya..err.eh..aduh" Jawab Sissy yang kebingungan menghafal nama arsitek yang dimaksud, sejurus kemudian sosok felix datang dengan seorang pria berkacamata minus dan berambut cepak.
"Oi, guys! sorry - sorry gw tadi ngeshoot home bandnya dulu, keren banget soalnya performance nya, men! " Ujar Felix heboh, ya Felix memang salah satu teman kami yang paling heboh dan rusuh untuk beberapa hal, dan kami menyayanginya. Kami hanya tertawa - tawa kecil mendengar kehebohan yang Felix ceritakan, dan aku sambil sesekali mencuri - curi pandang ke arah lelaki berkacamata minus yang felix bawa, ah sepertinya aku pernah melihat mata itu, tapi dimana..

"Oia, ini kenalin, temen gw yg gw critain itu, namanya AB..emm, lengkapnya Abimanyu, tapi dia biasa dipanggil Abe." Ucap Felix dengan bangganya memperkenalkan lelaki disampingnya.
"Hi, guys, gw Abe.." Ucap pria itu manis, sambil mengulurkan tangannya bergantian kepada kami.
"Abe ini tinggal di Aussie yah?" Tanya sissy kemudian.
"OH iya, dia sebenernya masih kuliah di aussie tapi ini dia lagi liburan ya selama 2 bulanan ke depan dia bakal disini, makanya mungkin bisa bantu - bantu ngedesign cafe kita, heheh" jawab Felix sambil nyegir kuda.
"Ih, felix! gue kan tanyanya sama Abe, kok jadi lo yang jawab sih ih" Sahut Sissy kesal.
Aku haya tersenyum kecil melihat tingkah teman - temaku itu, Abe pun hanya tersenyum simpul sebelum akhirnya melihat ke arahku dan membuat jantungku nyaris berhenti berdetak, ah aku tidak tahu kenapa bisa begini.
"Oh iya, lo tadi yang berdiri di tengah kerumunan penonton itu kan yah?" Tanyanya kemudian.
"eh, iya, hahhaa kok lo bisa tau sih, be?" tanyaku polos dengan detakan jantung yang sama seperti saat ia melihatku sebelum ia mulai bicara.
"Iya tadi gw ngeliat lo, lo suka jazz juga yah?" Tanya Abe kembali, ah Tuhan aku tidak tahu seperti apa warna pipiku saat ia kemudia bertanya kepadaku dengan senyuman yang...menyejukan.
Belum sempat aku menjawab, Sissy mendahuluiku menjawab.
"Idih Abe, kok Loza terus yang ditanyain, gw sama Rangga enggak ih" kata sissy sok protes.
Abe menatapku sekilas, aku semakin kikuk, ah ini betul - betul awkward moment.
"Hehehe, iya deh iya, sissy suka juga sama lagu - lagu jazz yah?" tanya Abe dengan mimik wajah yang begitu manis, Hah, kenapa sih ada sosok pria seperti Abe, yang pada saat pertama bertemu saja sudah begitu mudah untuk dikagumi. Pertanyaan Abe tadi mengungang gelak tawa kami, kami?ah tidak mereka, ya hanya mereka, aku terlalu kikuk untuk ikut tertawa dengan mereka.
Tiba - tiba Hpku berderit, sebuah sms masuk..
Unkwon number..ah siapa ini..

"Za, gw sadar sekarang seberapa worth it lo untuk gw pertahankan"

DEGH!! aku lunglai seketika, ini pasti Ben..pria yang sudah membuatku begitu rapuh saat ia memutuskan hubungannya denganku sebulan lalu dan membuatku lebih porak poranda dengan mempertontonkan kemesraannya dengan pacar barunya di twitter. Rangga sepertinya membaca apa yang terjadi tanpa aku ceritakan. Ia mengisyaratkan aku untuk menyerahkan handphoneku padanya, aku menurut saja padanya. Rangga dengan santai nampak mengotak atik HPku, sebelum kemudian memberikannya kembali padaku, aku memeriksa HP ku, ah ternyata Rangga menghapus sms Ben. Suasana menjadi agak kaku, karena aku yang sedari tadi tertawa - tawa menjadi murung karena sms itu, dan Ranggapun bersikap yang sama dengaku, seolah moodnya jg ikut terganggu. Hanya terdengar Felix yang terus heboh menceritakan konsep cafe kami kepada Abe yang nampak mengamatiku diam - diam.

"Za, sakit yah?pucet banget gitu" Tanya sissy akhirnya kemudian, aku bukannya tak menikmati kebersamaan kami sore itu, tapi aku benar - benar ingin menangis saat menerima sms dari Ben itu, aku masih begitu mencintainya meski Ben sudah menghempaskan aku dengan begitu kasar, tapi aku juga tak cukup berani untuk menyambut uluran tangan ben kembali, karena aku tahu, teman - teman baikku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, mereka terlalu takut aku tersakiti lagi, dan aku menghargai mereka.
"Iya, Loza sakit sy, gw anterin dia balik dulu yah, lo pada kalo masih mau discuss soal konsep cafe dan arsitekturnya, terusin aja dulu yah, gw anter Loza balik dulu, ayo za." Ujar Rangga sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku menatapnya sebentar, mata teduh sahabatku sedari kecil ini mampu membuatku mengiyakan semua maunya. Aku beranjak bangun dari dudukku, dan meninggalkan sahabat - sahabatku juga Abe di sana.

"Ben, semua gara - gara Ben kan, Za?" Tanya Rangga sambil mengemudikan mobilnya pelan.
Aku tak menjawab, hanya buliran air mataku saja yang turun perlahan - lahan dari sudut mataku.
"Za, kenapa sih lo masih rapuh aja dapet sms dari si brengsek ben itu?lo gak inget dia ngebuang lo kayak apa?kenpa Za?" Tanya Rangga kembali, aku masih terus menangis bahkan dengan debit air mata yang lebih deras, aku sesak.
"Za.." Tanya Rangga dengan intonasi agak tinggi, sebelum kmudian ia melihat ke arahku yang duduk disampingnya dengan berurai air mata. Spontan Rangga menghentikan laju mobilnya dan menggenggam jemariku.
"Za, gw minta maaf klo gw bikin lo nangis, tapi Za udah donk jangan sampe lo kebawa hati lo terus, lo jangan kalah sama perasaan random lo itu, jangan biarin Ben mainin perasaan lo lagi" Ujar Rangga sambil terus menggenggam jemariku, aku semakin tersedu - sedu saat melihat ke dalam matanya yang sungguh - sungguh memintaku berhenti menjadi bodoh karena tetap mencintai Ben.
"Ga, lo tau kan gimana sayangnya gw sama Ben?gimana dalemnya perasaan gw sama Ben?" Tanya ku kemudian.
"Iya gw tau, tau banget! tapi terus emang itu semua bikin si Ben itu jadi beneran sayang juga sama lo?kan enggak Za, lo gak inget apa dia ngebuang lo kayak apa demi cinta masa sekolahnya itu?lo lupa Za?lupa?!" Tanya Rangga dengan nada yang lebih tinggi, dan kemudian disambut oleh bunyi klakson kendaraan di belakang kami yang jadi tersendat karena Rangga menghentikan mobilnya sembarangan dan tiba2. Rangga tetap tak bergeming dengan suara klakson dan makian pengguna jlan lainnya, aku menatap rangga, dan menggenggam jemarinya erat, sambil berujar..
"Ga, gw baik - baik aja, gw kuat kok ga, gw gak apa - apa, lo jangan khawatir yah.." Ujar ku sambil menghapus air mataku dan meyakinkan Rangga, Rangga nampak luluh dan akhirnya menjalankan mobilnya kembali....

Jumat, 24 Februari 2012

Karena Kau begitu Abu - Abu.

Ku tatap wajah cantik yang menggandeng lenganku manja di foto yang ku simpan di meja kerjaku, ada rindu yang menggelayuti hatiku. Hampir seminggu aku menjalani hariku tanpanya, ya istriku, aku mengizinkannya pergi ke amsterdam untuk tour bersama teman - temannya, sementara aku di sini memboyong Ibu ku untuk tinggal di rumahku sementara istriku di amsterdam. Tiba - tiba HP ku berderit, ah sms dari istriku rupanya.

"Mas, aku sudah landing nih jemput yah di bandara, please, please, please :D" -My beloved wifey-

Senyumku mengembang seketika, namun tak lama meredup lagi, ah apa jadinya jika hari ini ia ku bawa pulang lalu bertemu dengan Ibu ku di rumah? sejak awal kami pacaran zaman SMA dulu, Ibuku kurang setuju aku menjalin hubungan dengannya, bukan saja karena di keluarga kami tidak mengenal istilah pacaran, tapi juga karena Cheryl tidak berjilbab seperti halnya Ibu dan istri - istri kakak - kakak ku yang lainnya. Aku tidak mau memaksa cheryl untuk  segera berjilbab, karena aku faham betul wataknya, ia tak bisa dipaksa, semakin ku paksa ia akan semakin memberontak, ahh baiklah ini karena aku terlalu mencintainya, sehingga untuk urusan jilbab aku menomor sekiankan hal itu, yang terpenting bagiku adalah cheryl tidak pernah meninggalkan shalatnya kecuali saat ia datang bulan. Lama tak ku balas smsnya, aku larut dalam kekhawatiranku sendiri, lalu sebuah telpon pun masuk, nomor cheryl rupanya.

"Hallo, assalammu'alaikum Mas Tio" Ucapnya lembut.
"Iya, wa'alikumussalam sayang. " Jawabku senang.
"Ih, mas gimana sih, kok smsku ndak di balas, aku udah cape nih, pengen cepet sampe rumah. Jemput yah" Ujar Cheryl mendengus.
"Ah, iya sayang. Aku masih ada urusan di kantor, memang kamu nda bisa naik taksi?" Jawabku dengan agak menyesal, bagaimana pun Ibu pasti tidak akan suka aku keluar kantor hanya untuk menjemput cheryl pulang, aku tak ingin Ibu berfikir cheryl menyusahkanku saja, aku tak ingin cheryl tersudut.
"Ih, kok gitu sih mas, hmmm..yaudah dech kalo gitu, Mas terusin aja kerjaannya di Kantor, aku pulang sendiri aja gak apa, heheh" Ujar cheryl dengan nada agak kecewa, namun suara tawa ringannya itu sedikit melegakanku, ahh cheryl sayang, maafkan Mas, pekikku dalam hati.

**************************************************************************
Sorenya, selepas maghrib aku memacu mobilku cepat ke arah rumahku, hari itu jalanan lumayan bersahabat denganku, tak ada macet, hingga aku bisa segeratiba di rumah ku. Ku lihat di teras rumah Ibu sedang duduk sambil memegang tasbih di tangannya, aku menghampiri Ibu dan ku cium punggung tangannya takzim.
"Loh bu, kok Ibu di luar sih? gerah ya bu?" tanyaku pada Ibu yang terlihat agak kesal.
"Ibu takut khilaf kalau di dalam, takut ibu kalap memaki istrimu itu." Ujar ibu sambil meneruskan dzikirnya. Aku terkesiap, ah ulah cheryl yang mana yang membuat ibu sampai bersikap seperti itu.
Aku tidak meneruskan pembicaraan kami, aku langsung pamit kepada ibu untuk segera masuk ke rumah, hatiku panas namun tak henti bertanya tanya ada apa rupanya dengan cheryl, tiba di ruang tamu, aku melihat beberapa shopping bag yang tersimpan di sofa ruang tamu kami, tak ada yang aneh, ini memang pemandangan yang lazim terjadi saat cheryl baru pulang travelling, aku beranjak ke ruang tengah, disana ku dapatai istriku cheryl tengah membereskan kopernya, ku sentuh bahunya dari belakang sambil mengucap salam, lalu cheryl menjawab dan menoleh, namun apa yang ku dapatai, pipi cheryl basah, ia menangis, Astagfirullah aku kaget bukan main, apa yang terjadi dengan ke 2 bidadari ku ini.
"Sayang, ada apa?kenapa nangis?Kamu ngambek sama Mas?Mas minta maaf sayang, maaf" Ucapku sambi menyeka air matanya, cheryl menggelengkan kepalanya dan memelukku erat. Aku bingung sekaligus panik karena cheryl tak berhenti menangis, 5 tahun pacaran dan sudah 3 tahun pernikahan, aku tak pernah melihat cheryl sesedih ini. Ku papah cheryl ke kamar, aku tak ingin situasi ini dilihat oleh Ibu ku.
"Sayang, ada apa?jujur sama mas, ayo ada apa?" Ujarku sambil mendudukannya di sofa kamar kami. Cheryl mulai menyeka air matanya sambil berusaha menenangkan diri, aku meraih segelas air putih yang ada di kamar kami dan membiarkannya minum. Pelan - pelan setelah cheryl agak tenang, akhirnya ia mulai mau bercerita.
"Mas, aku minta maaf karena aku selalu menyusahkan mas bahkan setelah kita 8tahun bersama pun, aku masih terus membuat mas susah, menghabiskan uang mas dengan terus berkeliling dunia, dan bahkan karena keegoisanku juga, mas akhirnya setuju untuk aku agar tidak memiliki anak dulu." Ujar Cheryl tertahan, aku menggengam tanganya dan menatapnya dalam.
"Sayang, siapa bilang aku merasa disusahkan olehmu, siapa bilang aku merasa keberatan dengan semua itu sayang, siapa?aku merasa baik - baik saja, soal anak bukankah ini demi study mu, kita kan sudah sepakat untuk menunda memiliki momongan hingga S2 mu selesai sayang." Ujarku sambil kemudian memeluk cheryl erat, Cheryl tetap sesenggukan, dia nampak begitu lelah dan terpukul. Setelah itu ia nampak lebih tenang, terlebih setelah adzan isya berkumandang, dari luar kamar terdengar suara ibu memanggilku dengan setengah berteriak.
"Tio, ayo berjama'ah nak" Ujar Ibu setengah berteriak, aku menyahut dengan cepat dan segera berwudhu di kamar mandi, kamarku. Ku ajak Cheryl untuk bergabung berjama'ah denganku dan Ibu, namun cheryl menolak dengan alasan ingin lebih khusyu' shalat sendiri di kamar, aku lagi - lagi tak kuasa memaksa istriku untuk menjalankan shalat dengan cara yang lebih utama yaitu berjama'ah.
Aku menghampiri ibuku di mushola rumahku dengan agak berat karena harus meninggalkan cheryl sendirian, Ibu menatapku heran, "Mana istri cantikmu itu?kenapa tidak ikut berjama'ah?" tanya ibu padaku. Aku hanya tersenyum tanpa berniat mendebatnya, aku tak mau aku malah jadi memperkeruh suasana, segera ku lafalkan iqomat untuk segera memulai shalat kami.
Ku imami Ibu ku dengan khusyu', selepas shalat dan dzikir, aku mencium punggung tangannya, Ibu memegang kepalaku dan mengusapnya, aku larut dalam suasana itu hingga aku merasakan ada tetesan hangat yang menetes ke kepalaku, aku mendongak, ternyata Ibu ku menangis. Ya Allah, ada apa ini, kenapa hari ini 2 bidadari dunia ku menangis?
"Bu, Ibu kenapa kok nangis?Tio ada salah apa sama ibu?" tanyaku pelan sambil mengusap pipinya yang sudah penuh kerut.
"Tio, apakah Ibu pernah memintamu untuk melakukan sesuatu yang Ibu inginkan? dan apakah pernah Ibu menolak apapun yang kamu pinta?" tanya ibu lirih.
Aku terhenyak mendengar pertanyaan Ibu, seketika aku merasa mataku panas, rasanya buliran air mataku juga tak mau kalah untuk keluar dari pelupuk mataku.
"Ibu, demi Allah yang nyawaku ada dalam genggaman-Nya, tak pernah sekalipun Ibu meminta sesuatu hal pun kepadaku, dan tak pernah sekalipun Ibu menolak permintaaanku meski ibu tak suka, memangnya ada Bu, ada apa?coba katakan pad Tio." Ujarku dengan air mata yang mulai tumpah, kali itu aku merasa menjadi anak yang begitu durhaka karena telah membiarkan Ibu ku meneteskan air matanya dengan deras, namun sungguh aku tak mengerti perihal sebab Ibu menangis.
"Tio, 32 tahun Ibu membesarkanmu tidak pernah sekalipun Ibu meminta sesuatu halpun kepadamu, lalu apakah salah jika saat ini diakhir usia senja Ibu, Ibu meminta sesuatu padamu, nak?" tanya Ibu sambil mengusap wajahku dengan air matanya yang masih berlinang, tanpa fikir panjang lagi aku mengiyakan, "Silahkan bu, mintalah apa yang Ibu inginkan, Tio pasti akan berikan apapun yang ibu inginkan Insya Allah." Ujarku cepat dan bersungguh - sungguh.
"di usia senja ibu ini, Ibu ingin kau ceraikan istrimu Katrina Cheryl Widodo." Ujar Ibu dengan suara bergetar namun terdengar begitu sungguh - sungguh, aku tersentak hebat, Ya Allah bagaimana mungkin, bagaimana mungkin aku menceraikan wanita yang telah kucintai selama 8 tahun ini, aku tak sanggup, aku melepaskan genggaman jemari ibuku yang sedari tadi mengusapi wajahku, aku menatapnya penuh kesedihan, aku betul - betul tidak sanggup untuk memenuhi permintaanya yang satu ini.
"Kenapa, kau keberatan dengan permintaan ibu ini?kau tak rela Ibu meminta hal itu?hah?" Ucap Ibu sambil terus menerus menangis.
"Tapi Bu, kenapa?kenapa harus hal ini yang Ibu pinta dariku?Bukankah Ibu tahu, aku tak bisa hidup tanpa cheryl?Bahkan dari 8 tahun lalu pun aku sudah ungkapkan ini kepada Ibu dan keluarga besar kita kan bu?salah Cheryl apa hingga ibu menyuruh aku menceraikannya?" Tanya ku dengan wajah memelas.
"Kau masih tanya alasannya?perlukah Ibu beberkan? Tio, Ibu yakin kamu tidak asing dengan istilah birul walidayn kan?apakah kamu tidak menganggap bahwa permintaan Ibu ini adalah sebuah sarana untukmu mengamalkan Birul walidayn itu?" tanya Ibu sambil menyeka air matanya.
Aku terhenyak, lama aku terdiam tak terdengar suara kami berbantahan lagi, yang terdengar hanya suara sesenggukan kami berdua. hingga akhirnya aku teringat sesuatu.
"Tapi bu, bukan kah birul waidyn itu hanya bisa dilaksanakan untuk hal - hal yang baik saja, bukan untuk hal yang mendatangkan kemudharatan, apalagi hal yang dibenci Allah yaitu perceraian?" Ujarku merasa ada pembenaran. Ibu ku menatapku lembut, dan aku begitu menyukai tatapan itu, kemudian ia membetulkan posisi duduknya. Ia tersenyum sambil berkata.
"Sepertinya kamu lupa akan satu riwayat, nak. ' Dari sahabat Abdullah bin umar brkata: Aku mempunyai seorang istri serta mencitainya dan umar tidak suka kepada istriku. Kata umar kepadaku 'Ceraikanlah istrimu' lalu aku tidak mau. Maka umar datang kepada Nabi shalallahu 'alihi wassaalam dan menceritakannya, kemudian nabi  berkata 'ceraikanlah istrimu'  dan hadist ini diriwayatkan oleh Imam tirmidzi dan Abu daud, lalu jika kamu belum puas, berikut ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh abu darda, ' Dari Abu darda radiyallahu 'anhu: bahwa ada seseorang datang kepadanya dan berkata 'Sesungguhnya aku memiliki seorang istri dan menyuruhku menceraikannya. Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  bersabda ' Orang tua adalah sebaik - baiknya pintu surga, seandainya kamu mau, maka jagalah pintu itu jangan engkau siasiakan , maka engkau jaga' " Ibu menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, aku terkesiap Astagfirullah bagaimana mungkin aku lupa akan semua riwayat yang ibu sebutkan, aku akui memang setelah aku menikah, aku jadi jarang menghadiri majlis - majlis ilmu, bahkan halaqahku sudah off sama sekali.
"Aku mengerti bu, tapi aku mohon berikan aku satu alasan mengapa aku harus menceraikan Cheryl bu?" tanyaku masih bersikeras.
"Tio, apa kau tidak merasa ada yang berubah dengan ruhani mu semenjak kau menikah??coba hitung semenjak kau menikah berapa kali kamu mendatangi kelompok halaqah mu??kamu fikir ibu tidak tahu?lalu kamu fikir sebagai imam keluarga dan lelaki yang memiliki fondasi iman yang kuat sedari kecil, apakah dibenarkan untuk menolak rizki Allah dengan menunda memiliki momongan?Tio ketahuilah bahwa kamu sungguh telah dibutakan oleh cintamu terhadap istrimu sehingga kamu mau saja melakukan hal - hal yang bertentangan dengan syariat agama?"ujar ibu dengan nada tegas sekarang.
"Tapi bu bukankah hal tersebut masih belum fatal, aku masih bisa memperbaiki semuanya bu, tidak harus bercerai, lagi pula cheryl adalah istri yang baik, aku tidak menemukan noda setitikpun dari aktifitas ibadah cheryl, dia rajin shalat dan puasa bu." ujarku tak mau kalah.
"Baiklah, katakanlah dia rajin shalat dan puasa, lalu bagaimana dengan kewajiban berjilbabnya?adakah ia mengenakan jilbab sekarang?kamu tidak lupa kan dengan perumpamaan orang yang mengisi air dengan bejana yang bolong disetiap sisinya?semua airnya tidak seutuhnya tersimpan di bejana itu, airnya tercecer kemana2 dan tidak akan bisa penuh, nah seperti itulah cherylmu itu saat ini." ujar ibu sambil beranjak pergi dari mushola rumahku, ibu meinggalkanku dalam keadaan bimbang, aku sungguh mencintai istriku cheryl, aku teramat mencintainya, namun aku juga begitu ingin berbakti pada wanita hebat yang menjadi ibuku, aku tahu beliau tidak mungkin marah jika perkara itu remeh. Aku tersungkur dalam sujud panjangku, berat rasanya hari ini bagiku.
Lalu dari belakang terdengar suara langkah kali yang mendekat ke arahku, cheryl rupanya.
"Mas, ada apa?kok lama sekali shalatnya?" tanya cheryl yang terlihat sudah lebih baik.
Aku mentapnya dalam, wajahnya yang putih bersih, hidungnya yang mancung, matanya yang bulat dan bening, rambutnya yang ia cat pirang, ahh katrina cheryl widodo yang ku cintai, bagaimana mungkin kau harus ku ceraikan.
"Ada apa sih mas?mas berantem sama Ibu?" tanya cheryl padaku.
"Cheryl, ah maksudku, sayang, kamu masih belum kefikiran juga untuk pakai jilbab?" tanyaku kembali padanya.
"Hah?hahahhaha, belum lah mas, aku kan sering bilang, aku masih kepengen jilbabin hatiku dulu, heheh" ujarnya cengengesan, aku menanggapinya hambar tanpa senyum sama sekali, rupanya cheryl masih belum menganggapku serius.
"memang kenapa mas?Kamu mau aku pake jilbab segera?atau Ibumu yang memintaku untuk segera berjilbab?" tanya cheryl kemudian.
"Aku sayang, aku yang menginginkanmu untuk segera berjilbab, itu kan wajib sayang, perintah agama, perintah Allah, bahkan itu tertulis jelas di surat Al- Ahzab ayat 59." ujarku berhatu - hari padanya. Cheryl mengerutkan keningnya, ia menarik rambut pirangnya kebelakang.
"Mas, Mas Tio kan selama 5 tahun pacaran dan sekarang 3 tahun usia pernikahan kita selalu janji mau menerima aku apa adanya, lah kok sekarang mas nuntut aku bgitu sih?" tanya cheryl kemudian, aku tahu tak akan mudah bagi cheryl memenuhi permintaanku.
"Kalau mas nuntut aku supaya aku pake jilbab kayak Ibu, kayak Mbak Reni, Mbak Adis, dan Mba Tiur, istri - istri kakak kakakmu itu, berarti Mas tak menerimaku apa adanya." Ujar Cheryl dengan mata memerah.
"Kamu salah sayang, menyuruhmu berjilbab itu bukan keinginanku, tapi keingingan Allah Tuhan kita semua! masa kau tidak faham juga?" ujarku sedikit emosi dengan sanggahan - sanggahan Cheryl.
"Baiklah kalau itu perintah Tuhan, yasudah biarkan saja ini menjadi urusanku dengan Tuhan saja, Mas, Ibu atau siapapun jangan ikut campur soal urusan ini." Ujar cheryl yang membuatku tersentak hebat, bagaimana mungkin gadis cantik yang selalu aku banggakan akhlaknya berani bicara seperti itu.
"Cheryl, kamu dan anak - anak kita nanti adalah tanggung jawabku kepada Allah di akhirat nanti, jadi bagaimana mungkin aku tidak mencampuri urusanmu perihal jilbab ini." Ucapku sambil memegang bahunya agar ia menganggap serius perkataanku.
"Baiklah, kalau begitu, ceraikan saja aku mas, agar tanggung jawab Mas terhadap Allah nanti tidak berat. Aku akan memakai jilbab mas, pasti! tapi pada saatnya tiba nanti!!." Aku tersentak hebat lagi - lagi, aku terpukul. Mataku basah lagi, aku beranjak meninggalkan cheryl di mushola rumah kami. Cheryl menangis dengan suara keras, aku meliriknya sesaat sebelum meninggalkannya, ada rasa tak tega yang terselip di hatiku saat itu, namun aku harus tegas padanya, cheryl pun telah dengan tegas minta aku ceraikan, tanpa harus mendurhakai orang tuaku mungkin memang ini sudah saatnya aku menceraikannya. Aku termenung di ruangan kerja rumahku, ku tatap foto - foto kami dari zaman pacaran hingga sekarang kami berrumah tangga. Lalu kejadian di mushola tadipun berseliweran di benakku, Wajah ibu berbekas kuat di ingatanku, aku tahu mungkin ini cara Mu untuk menunjukan kepadaku bahwa sudah saatnya aku menunjukan baktiku kepada Ibu ku, maka dengan bismillah ku tekan no hp kawanku Rais yang seorang pengacar untuk mengurus perceraianku dengan istriku malam itu tepat pukul 2 dini hari. Aku kembali menangis tersedu - sedu menagdukan semua yang berkecamuk di dalam hatiku kepada- Nya. Ku ambil wudhu dan ku dirikan shalat istikharah dan tahajud, sujud2 panjang terus ku lakoni hingga adzan subuh berkumandang dan tak sedikitpun aku tertidur, dan setelah subuh keputusanku untuk bercerai dengan Cheryl semakin mantap. Aku memang mencintaimu bidadariku, tapi aku lebih mencintai Tuhanku Illahi Rabbi. Karena kau begitu abu - abu bagiku, cheryl.

Rabu, 16 November 2011

Satu

Entahlah, dari semua orang yang dikenalkan padaku, cuma gadis semi remaja itu saja yang nampak begitu tulus menerima ku, bahkan Abangnya saja aku ragu bisa begitu. Saat tatapan - tatapan meremehkan dari semua anggota keluarganya yang membuatku ingin kabur dari tempat itu saat itu, sesosok gadis semi remaja yang kurus dan berambut agak ikal menyalamiku ramah dengan senyumnya yang manis.
"Hai, kak, kakak kak Sarah yah?" Ujarnya sambil mencium punggung tanganku.
Ada kehangatan yang melelehkan hatiku karena dinginnya AC diruang tamu itu juga karena sikap dingin anggota keluarganya saat itu.
"Iya sayang, kamu siapa?ah ini Runi yah adiknya Bang haifidz?" Tanyaku sambil menyentuh pipinya lembut, Runi ya gadis itu yang saat itu masih duduk di bangku kelas satu SMP nampak yang paling antusias berkenalan denganku dibanding yang lainnya. Bang hafidz yang telah menjadi suamiku kini nampak begitu kikuk ketika Ayah Ibu nya memanggilnya ke kamar mereka, ia nampak enggan meninggalkanku di ruang tamu bersama para saudara - saudaranya yang nampak jelas tidak menyukaiku, makin terlihat jelas saat pernikahan kami di kampung halamanku di Semarang, tak satupun dari keluarga inti bang Hafidz yang menghadiri pernikahan kami. Rumah mewah ini nampak begitu asing dan seram bagiku, karena meski penghuni ini banyak namun hanya Runi yang mau beramah tamah padaku, sebenarnya aku ingin sekali bercengkrama dengan mertuaku, tapi mereka menarik diri, tidak berkata apa - apa memang, namun didiamkan itu memang lebih menyakitkan, aku termenung sendiri, satu persatu orang yang di ruang tamu beranjak pergi meninggalkanku tanpa suara, tantenya, pamannya, dan nina sepupunya semua pergi, aku nyaris saja menangis sampai ku lihat Runi tetap di tempatnya, Runi tetap duduk di ruang tamu menemaniku, aku meliriknya lalu Runi pun melihat ke arahku sambil bergeser lebih dekat ke arahku, aku senang.
"Kak, ceritain donk kemarin waktu kakak nikah acaranya gimana?kakak pake baju apa?aku mau lihat donk." Ujar Runi nampak antusias, aku pun segera mengeluarkan laptop ku, ku perlihatkan foto - foto pernikahan kami. Runi nampak terkagum - kagum beberapa kali ia memujiku.
"Wah, kak Sarah cantik banget, sayang kita gak bisa datang, habis Teh silvy gak ngebolehin, huh payah tuh dia" Ujar Runi nampak kesal, ahh Runi aku jadi teringat kembali insiden sebelum kami menikah kemarin.
"hehehe, Runi bisa saja, nanti Runi kalo nikah juga bisa lebih cantik dari kak Sarah kok " ujarku tersenyum. Lalu saat aku dan Runi sedang asyik mengobrol, tiba - tiba terdengar suara sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mertuaku yang megah itu. Tak berapa lama muncul seorang perempuan cantik yang nampak tergesa - gesa memasuki rumah, begitu masuk dan melihatku, wajahnya langsung berubah muram. Aku kaget dan segera bangun dari tempat dudukku, ku sapa wanita cantik itu yang ternyata adalah kakak kandung Bang Hafidz, ya Teh Silvy.
"Assalammu'alaikum Teh silvy, apa kabar?" ujarku seramah mungkin padanya, namun reaksi yang ku terima justru mengecewakanku. Teh silvy menepis tanganku dan membetulkan sasakan rambutnya yang nampak agak mengsong karena angin.
"Mana Hafidz?Kurang ajar banget jadi adik, gak mau dengar kata - kata kakaknya." Ucapnya setengah berteriak tanpa memandangku, aku terluka namun saat aku hendak menjawab, Runi lalu bangkit dari duduknya, "Teh, teh silvy apa - apaan sih?gak usah pake teriak - teriak gitu bisa kali, kasihan kan Kak Sarah" Ucap Runi membela ku. Tapi Teh Silvy malah menatap tajam Runi.
"Heh, anak kecil gak usah ikut campur yah!!dimana Hafidz sekarang?" Tanya Teh Silvy pada Runi. Lalu Runi menggamit lenganku dan membawaku ke ke taman belakang sambil berujar pada Teh Silvy, "Mana gue tahu!!!" ujarnya. Teh Silvy nampak begitu marah pada kami, aku merasa bersalah padanya, semua ini karena aku ya karena aku, andai saja Bang Hafidz tidak bersikeras menikahiku, pasti perpecahan di keluarganya tidak akan terjadi.
Sementara itu dikamar mertuaku..
"Fidz, kamu ini gimana sih?Ibu kan udah bilang, keinginan adikmu itu jangan dibantah, ari tos kieu kumaha jadina, Ibu sarena bapa oge nu jadi pusing." ujar ibu mertuaku dengan bahasa yang campuran. Bang hafidz hanya terdiam tak berbicara sepatah katapun, ia tertunduk dalam.Ayah mertuaku tak berkomentar apapun, Ibu terus menerus mengeluh pada Bang Hafidz, namun Bang Hafidz tetap diam, tak lama pintupun diketuk dengan kencang seolah si pengetuk tak sabar ingin masuk, semua yang ada di kamar itu, "Haduh, itu si silvy udah datang lagi, Pak kumaha ieu?kumaha?" tanya Ibu mertuaku panik, Ayahku nampak tak bergeming dan malah membukakan pintu kamarnya.
"Sil, bisa kan kau pelan - pelan saja, bapak dan Ibu mu tak Tuli !!" ujar ayah mertuaku dengan logat khas tapanulinya yang kental.
"Maafin silvy ayah, tapi silvy geram dengan tingak anak laki - laki kesayangan ayah ini." ujar teh silvy sambil menyerobot masuk ke kamar orangtuanya mencari sosok Bang Hafidz.
"Heh!!masih berani kamu datang ke rumah ini?setelah tak mau mendengar kata - kataku, sekarang kamu balik lagi ke rumah ibu dan bapak dengan membawa perempuan kampungan itu?" Ujar teh silvy dengan mata memerah. Bang hafidz masih tetap diam, ia tak mau berdebat dengan kakak kandungnya sendiri didepan orang tuanya, namun teh Silvy menarik tubuh Bang Hafidz agar ia berdiri dari tempat duduknya dan menjawab pertanyaannya.
Bang hafidz geram, "Teh, aku ini adik lelakimu, aku berhak menikahi siapapun perempuan yang aku kehendaki, lalu kenapa teteh begitu membenci Sarah?membenci pernikahan kami?" Ujar Bang Hafidz tegas, ada genangan air mata dari sudut matanya.
"Iya, kamu memang berhak menikahi semua gadis yang kamu kehendaki, tapi tidak berarti Sarah, wanita yang sama sekali tidak kau cintai, Fidz" Ujar Teh silvy membuat langkahku terhenti dibalik tembok kamar mertuaku yang pintunya terbuka saat aku hendak pergi ke kamar mandi yang terletak di samping kamar mertuaku.
"Aku memang belum mencintainya, tapi aku yakin aku bisa mencintainya teh, lagi pula insya Alloh pernikahan yang aku laksanakan ini mengandung kebaikan karena..." Ucapan Bang hafidz tertahan, aku limbung mendengar ucapannya, mataku nanar, rasanya aku tak menginjak bumi.
"Kebaikan apanya, hah?!kamu merasa baik karena telah menjadi pahlawan yang telah menyelamatkan nasib pernikahannya dengan sahabatmu yang meninggal itu hah?" Ujar Teh silvy dengan nada meninggi, aku makin tak kuat, aku limbung, aku terduduk di lantai. Suara Bang Hafidz kembali terdengar, "Teh, aku mohon hargai pilihan hidupku, Arif adalah sahabatku, dan aku tahu Sarah adalah muslimah yang baik, proses ta'aruf mereka aku yang membantu, jadi saat Arief meninggal ketika menuju akad nikah, aku merasa bertanggung jawab, kami memang boleh berduka, tapi nama baik keluarga Sarah tak boleh tercoreng dengan gagalnya pernikahan mereka." Ujar Bang Hafidz dengan sungguh - sungguh, detik itu aku menyadari bahwa pria tampan yang menikahiku seminggu lalu hanya menikahiku karena kasihannya, aku memakluminya. Ayah mertuaku keluar dari kamar itu dan memergoki aku yang terduduk sambil menangis, untuk pertama kalinya ia berbicara padaku.
"Sarah, kenapa pula kau duduk dibawah sini?ada pa nak?" tanya nya meski agak keras namun tetap terasa lembut. aku menghapus air mataku dengan cepat mencoba bersikap tak ada apa - apa didepan ayah mertuaku. aku berkata tidak apa - apa dengan lirih, saat ingin bangkit, aku tak bisa kakiku lemas, ayah mertuaku panik dan memanggil Bang Hafidz, "Fidz, hafidz kesinilah kau, istrimu sakit." ujar ayah mertuaku berteriak, ku lihat Bang Hafidz dengan tergesa keluar dari kamar mertuaku dan menghampiriku, disusul dengan Ibu mertua dan kakak iparku, teh Silvy.
"Kamu kenapa dik?sakit?" ujar Bang Hafidz cemas, aku tak sanggup berkata dengan suara keras, malu pula, karena sebenanya lelaki dihadapanku ini tak ubahnya hanya seorang pria asing yang tak mencintaku meski ia suamiku, "Dik Sarah?baiklah abang gendong kamu ke kamar yah" ujar bang hafidz mengangkat badanku, aku yang memang saat itu tak punya cukup tenaga untuk menolaknya akhirnya dipangkunya ke kamar bang Hafidz di lantai 2, sayup - sayup terdengar suara Teh silvy menggerutu kepada Ibu mertuaku, "Tuh bu, tingali wae, can nanaon oge tos ngaripuhkeun, tuh Pak macam mana pula sih pak dia itu." Ujar Teh selvy membuat pipiku makin basah, Bang Hafidz bersikap seolah tak mendengar apapum, ia terus naik ke lantai 2 sambil membawa tubuhku yang agak berat ini. Sampai dikamarnya aku duduk dikasurnya, ini pertama kali aku masuk ke kamarnya, rapi dan indah seperti pribadinya, Bang Hafidz membungkukan badanya dan mengusap lembut pipiku, "Dik, ada apa?bukankah tadi kamu yang bersemangat ingin bertemu keluargaku?katanya kuat?kok sekarang nangis begini." Ujar Bang Hafidz lembut, lelaki peranakan Medan Sunda ini memang begitu tampan, kulitnya yang putih bersih dengan hidung mancung, mata sendu dan janggut tipis didagunya itu sungguh sangat membuatku jatuh cinta pada saat ia mulai mengucapkan ijab qabul di akad pernikahan kami, tapi begitu mendengar ucapannya tadi pada kakak dan orang tuanya, aku merasa terpukul dan tak patas bersanding dengannya, dan menyandang gelar Nyonya Hafidz Nasution. Pria itu terus menatapku dengan mata sendunya, aku?aku terus menangis mengingat semua itu, melihatku tetap menangis, Bang Hafidz memeluku, ada damai disana, namun aku semakin sakit. Aku melepas pelukan Bang Hafidz setelah aku merasa aku tak pantas ia peluk. Bang Hafidz nampak terkejut, "Maaf Bang, jika memang benar abang menikahi saya hanya karena abang kasihan pada saya, maka abang boleh ceraikan saya saat ini juga." Ujarku dengan perasaan sakit yang dalam di hati. Bang Hafidz benar - benar menunjukan expresi terkejutnya, barangkali bingung mengapa aku tahu semua hal itu.
"Dik, kamu ini bicara apa sih?aku tidak mengerti, sudahlah dik jangan main - main dengan perceraian, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menghancurkan rumah tanggaku sendiri, aku takut saat nanti dimintai pertanggung jawaban oleh Allah nanti." Ujar Bang hafidz sambil berdiri.
"Meski pernikahan itu tidak atas dasar cinta?melainkan hanya karena belas kasihan?" ujarku dengan suara bergetar.

Sabtu, 05 November 2011

Gak ada Ide judul

"Andai kita bertemu lebih awal" ucap sarah tergugu di sajadahnya selepas tahajudnya kala itu. Sarah memang tipikal wanita yang sangat sulit jatuh hati, bahkan dalam usianya yang kini sudah menginjak hampir kepala 3. Desakan menikah memang sudah lama ia dapatkan dari kedua orang tuanya, terlebih sarah adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, semua kakak laki - lakinya telah menikah karena itu orang tuanya ingin Sarah sebagai anak perempuan yang paling bontot juga satu - satunya itu segera menikah. Sarah bukan tak laku, hanya saja ia terlalu pemilih, begitu penilaian orang - orang terdekatnya. Sebenarnya ini dilatar belakangi oleh pengalaman masa lalunya yang nyaris menikah, namun tiba - tiba saja pernikahan itu batal terlaksana karena ternyata lelaki tersebut sudah memiliki anak dan istri, padahal pada proses perjodohan kakaknya mati - matian membela sang teman, dan mengatakan bahwa ia masih perjaka. Murkalah seluruh keluarga Sarah kepada kakak tertuanya itu.
"Habis gw jengah sama lu, rah!!pilih - pilih banget jadi orang!!bikin pusing satu keluarga tau gak?!"begitu kilah sang kakak saat semua orang memojokkannya.
"Tapi bang, pernikahan itu kan bukan perkara main - main, Sarah gak mau salah orang, makanya salah pilih, dan lagi Abang juga tidak berhak menjerumuskan Sarah dengan memberikan calon suami yang salah untuk Sarah. " Ujar sarah sambil berlinangan air mata. Setelah kejadian itu, hubungan Sarah dengan sang kakakpun menjadi hambar, mereka tidak saling menyapa, bahkan Sarah sering kali memilih untuk pergi dari rumah saat kakak pertamanya itu berkunjung ke Rumah orangtua mereka.
Siang itu, Sarah yang sedang libur dari rutinitas kantornya ditelpn sang kakak nomor tiga untuk dimintai menjemput anaknya di TK dekat rumah sang kakak, meski rada ogah, Sarahpun pergi menjemput keponakannya. Sudah jam 12 saat Sarah tiba di TK Nafla, "TK macam apa ini, masak sekolah sampe ajm segini" gumamnya sambil duduk disalah satu bangku tunggu. Ia menunggu Nafla sambil membuka akun twitternya, ia asyik membalas mention - mention teman - temannya, namun seseorang menepuk pundaknya halus.

"Sarah ya?!" ucapnya lembut, Sarah mendongak dan nampak terkejut, ia nyaris berteriak saking senangnya.
"Mayla?!ahh subhanalloh! kangen, kok bisa ada disini sih?" Tanya Sarah dengan hebohnya.
"Iya, aku ngajar disini, Rah. Sudah sejak lama" Ujarnya lembut.
"Eh ngmong - ngomong kamu lagi ngapain disni?nunggu anakmu?" Sambung Mayla kembali.
Sarah yang sedari tadi berseri - seri karena bertemu dengan teman SMPnya seketika redup.
"Oh, nggak may, aku nunggu keponakanku, anaknya kak Raziq" ujar Sarah datar.
Seakan menyadari bahwa Sarah belum menikah, Mayla mencoba mengembalikan mood Sarah tanpa perlu membahas lebih lanjut soal jawaban Sarah tentang keponakannya itu, Mayla tahu persis wanita seperti apa Sarah itu. "Oia, kamu tinggal dimana sekarang Rah?" tanya Mayla antusias, tapi lagi - lagi pertanyaannya itu membuat Sarah meredup lagi.
"Aku masih tinggal dengan orang tua ku, May" Jawabnya lirih.
"Oh, iyalah terangsaja, kamu kan anak bungsu, ya harus tetap tinggal sama orang tuamu lah yah?" ucap mayla ringan.
"Nggak gitu, may. Semua karena aku belum menikah" Ujar Sarah sambil menekuri lantai putih yang ia pijak, sesaat suasana hening, lalu tak lama Mayla berpamitan karena ia harus membubarkan kelas Nol Besar. Tinggalah Sarah sendiri, ia memilih duduk berjauhan dengan para orang tua murid yang menunggui anaknya. Ia melirik jam tangannya, sudah hampir setengah satu, ia mulai gelisah mengapa Nafla tak juga muncul, namun saat ia mencoba bangkit dari tempat duduknya dan hendak menuju ruang kelas Nafla, ia melihat sesosok pria tegap yang berjalan menuju dirinya dengan menggendong seorang gadis cantik, "itu kan Nafla" pekiknya dalam hati. Entah kenapa, jantungnya berdegup begitu kencang saat mereka makin dekat, tangannya gemetar, bibirnya kelu, dan angin malah mengerjainya, angin meniup - niup ujung jilbab Sarah, semakin dekat pipi Sarah memerah saat Pria tersebut mengucap salam sambil menurunkan Nafla.
"Assalammu'alaikum, bu. Maaf tadi Nafla nangis dikelas, badannya agak panas, tapi tidak mau disuruh pulang, makanya agak lama." ujarnya sambil tersenyum lembut, ada semilir angin sejuk memenuhi ruangan kosong di hati Sarah, Sarah sungguh ingin protes karena ia dipanggil ibu oleh pria itu, namun sungguh lidahnya kelu, Untuk beberapa saat Sarah tak menjawab ucapan pria itu, Sarah mematung berusaha menguasai dirinya, sampai akhirnya Nafla menggerak - gerakan tangan Sarah.
"Tante!! aku mau puyangggg" rengeknya pada Sarah, ia segera istighfar lalu menggendong Nafla dengan pipi panas, lalu tanpa berani menatap pria itu, Sarah berterima kasih dan mengatakan hal memalukan, "Oia, terimakasih ya Pak, tapi saya tantenya bukan Ibunya, saya masih single, jadi tolong jangn panggil saya ibu." ucapnya tanpa memandang pria itu, namun kemudian Sarah pun benar - benar sadar atas kebodohannya itu saat beberapa ibu yang berlalu lalang itu cekikikan mendengar ucapan Sarah. Lalu pria tersebut akhirnya mengiyakan sambil mengulas senyum. Sarah pulang dengan menggendong nafla sambil terus mengutuki kebodohannya tadi. Ia kemudian membawa Nafla ke angkot jurusan rumah kakaknya.
"Kamu sakit ya de?" tanya Sarah pada Nafla yang nampak pucat.
"Iya tante, kepala aku pucing" jawab Nafla sambil memegangi keningnya
"oh iya de, tadi itu guru ade namanya syapa?" tanya Sarah kemudian.
"yang tadi?itu Pak Gulu Fathan, gak ngajal aku sih sebenelnya, dia kepala cekolah aku tan." ucap Nafla yang tiba - tiba semangat menceritakan si Fathan itu, dalam hati Sarah gembira, ah entahlah darimana datangnya rasa gembira itu, yang jelas BT nya Sarah hari itu hilang.
********************************************************************
Esoknya, ketika Sarah hendak menghadiri kajian rutin di Mesjid Agung, Sarah bertemu lagi dengan si Fathan itu di halaman mesjid tempat dimana ada bazar kecil digelar, mereka tak sengaja mengambil buku yang sama, tanpa tahu masing - masing sebelumnya, nampak sinteron sekali memang, tapi itulah yang terjadi sore itu.
"Loh, tantenya Nafla yah?mau beli buku hadist Riyadushshalihin juga ya?" tanyanya kemudian
Sarah?kembali bersikap bodoh tertegun tanpa berani memandang Fathan lama - lama, baru setelah Fathan memanggilnya lagi, Sarah tersadar.
"Oh, iya nih Pak Fathan." ucapnya nampak gugup.
"wah ternyata tahu ya nama saya?tapi ini ngomong - ngomong bukunya tinggal satu ini bagaimana? " tanya Fathan kemudian, ahh lagi - lagi Sarah mengutuki kebodohannya, mengapa ia tadi tak berpura - pura saja belum tahu namanya.
"Ah, iya dari Nafla kemarin Pak. Hmm, iya gimana yah?gambren aja apa yah Pak?" jawab Sarah konyol, hingga membuat sang penjual dan Fathan terkikik.
"Gambreng gimana?wong cuma berdua kok?hehhee ada - ada aja si Mbak ini" ucap Fathan sambil sekuat tenaga menahan tawanya. Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sesaat suasana menjadi hening, ada kekakuan yang terjadi, apalagi ketika si penjual buku yang sedari tadi memperhatikan mereka tiba - tiba berucap, "Weleh, ini kok ya kalian berdua ini serasi sekali yoo, mirip penganten, sama - sama pakai baju putih" ucapnya dengan logat jawanya yang kental, seketika Fathan dan Sarah menatap diri sendiri, lalu curi - curi pandang melihat satu sama lain, ya hari itu Sarah memang memakai long dress putih bersih dengan cardigan dan jilbab broken white, lalu Fathan mengenakan koko putih berlengan pendek dengan celana panjang berwarna krem. Mereka terlihat gugup, yang paling kentara adalah Sarah, "Ish, sih Bapak ada - ada aja dech, mana mungkin sih kita kayak pengantin?wong saya aja gak kenal sama dia, wee" kata Sarah dengan mimik lucu dan wajah memerah. Sementara Fathan hanya mengulas senyum sambil melempar pandangan ke arah serambi mesjid.
"Lha kalo begitu, sambil kenalan saja sekarang, hayooo, siapa tahu jodoh." ujar si penjual buku itu tadi. Mereka semakin kikuk, lalu tak lama dari dalam aula mesjid terdengar panggilan untuk Fathan agar segera mamasuki Aula, mereka pun berpisah, buku itu akhirnya dibeli oleh Sarah. Tak lama Sarahpun memasuki aula mesjid untuk mengikuti kajian sore itu, namun ia kembali terkejut begitu ia melihat sosok yang duduk di meja narasumber, ahh..Fathan!! Ia kembali merasa tidak karuan, jantungnya berdegup dengan irama yang sama, kencang setiap kali ia mendengar suara Fathan menyampaikan materi mengenai manajemen sekolah islam. Sarah ingin keluar, sungguh ia sangat ingin pulang dan tidak mendengarkan Fathan sampai selesai menyampaikan materi, namun ia tidak bisa, sebagian jiwanya menginginkan ia tetap disana. Sarah tidak memahami perasaan macam apa yang sedang mendera hatinya, seumur hidupnya, Sarah baru mengalaminya. Cintakah ini?ahh Sarah cepat - cepat mengahalau fikiran itu jauh - jauh. Ia kemudian menghubungi murobiyahnya lewat sms selama acara tersebut berlangsung, lalu sampailah ia pada satu solusi, ya, Sarah harus menanyakannya kepada Mayla, temannya yang bekerja sebagai guru di sekolah fathan.
***********************************************************************
Seminggu berlalu, Sarah melewatinya dengan tahajud dan istikharoh tak henti - henti, namun ia belum bisa menemukan kontak Mayla, sementara karena kesibukannya di kantor, ia baru bisa menemui Mayla pada hari sabtu ini.
"Aku harus bicara sekarang, jika terlalu lama, aku takut virus ini mengotori hatiku, paling tidak jika mayla sudah memberi tahu tentang siapa murobi fathan, aku bisa segera meminta murobiyahku membantuku lagi." Begitu ujar Sarah membatin.
Pagi itu Kuningan diselimuti kabut lumayan tebal, udara begitu dingin, langit juga mendung, namun itu tidak menyurutkan Sarah untuk menemui Mayla sambil mengantar Nafla ke TKnya.
Beruntung, pagi itu Mayla berada di pos satpam, sedang menyambut anak - anak didiknya masuk ke sekolah. Sarah dari jauh memberinya kode bahwa ia ingin bicara, sambil sesekali memperhatikan sekelilingnya, barang kali ada Fathan.
15menit berlalu, Mayla menemui Sarah yang duduk didekat tempat bermain anak - anak, mereka berbasa basi sebentar, lalu akhirnya Sarahpun memberanikan diri memulai semuanya.

"May, bisa tidak kau bantu aku?" Tanya Sarah kemudian.
"Bantu apa?insya Alloh bisa kok, say." ucap Mayla lembut.
"Hmm, sebetulnya aku tertarik sama seorang ikhwan, aku rasa dia adalah the right one, semua yang aku harapkan ada di dia semua, baik, pintar, sholih dan amat menyukai anak - anak." ucapnya begitu penuh penghayatan.
"hmm, subhanalloh, terus - terus gimana?kamu sudah tahu murobinya siapa?apa nih yang bisa aku bantu?" tanya Mayla dengan senyum manisnya, hingga lesung pipitnya dapat terlihat dengan jelas.
"Justru itu May, aku nggak tahu siapa murobinya itu. karena itu aku ingin minta tolong padamu." Ucap Sarah dengan wajah memelas.
Mayla agak terkejut, "Loh, memang aku kenal ikhwannya?" tanya mayla kemudian.
"iyalah kamu pasti kenal dia, bahkan mungkin sangat mengenal dia, bantu aku yah May, please!!cari tahu siapa murobinya." Ucap sarah lagi.
"Baiklah, memang siapa ikhwan itu, hah?" goda maya sambil mencubit pelan pinggang Sarah.
"Emmm...Fathan, Muhammad Fathan!!" Ujar Sarah agak malu - malu.
dan DEGH!! seperti ada yang mencubit ulu hati Mayla, Mayla merasa ada yang nyelekit di hatinya, matanya tiba - tiba berair, lidahnya pun jadi kelu.
"Loh, May, kenapa May?kamu gak apa - apa kan?" tanya Sarah panik.
"Tidak, aku tak apa Rah, tapi apa kau yakin laki - laki itu yang sudah membuatmu jatuh cinta?" tanya mayla nampak menghapus air matanya.
Perlahan namun pasti, Sarah mengangguk. Lalu Mayla memelu Sarah sambil bebisik dengan suara parau, "Maafkan aku sahabatku, Muhammad Fathan adlah suamiku dan ayah dari ke 3 anakku, maafkan aku tidak bisa membantumu." ucapnya dengan tangis yang mulai tumpah.
DEGH!! Sarah merasa langit runtuh, ia sedih, ia kecewa, ia juga malu pada Mayla, apa yang hendak ia lakukan, ia nyaris saja merusak rumah tangga sahabatnya sendiri. Sarah melepas pelukan Mayla dan menatap mayla, "aku yang seharusnya minta maaf, May. Aku tidak tahu semua ini, may, aku tidak tahu, aku minta maaf sungguh may aku minta maaf!!" ujar Sarah yang kali ini berjongkok karena kakinya lemas menerima kenyataan ini. Hujan rintik - rintik kemudian turun, seolah mensponsori kesedihan 2 wanita cantik itu.8
*******************************************************************
Sampai dirumah Sarah kembali menangis, ia tak keluar dari kamarnya sama sekali, kecuali untuk berkali - kali wudhu. Bahkan hingga sepertiga malam ia tak juga tertidur, hingga akhirnya ia memutuskan untuk sholat beberapa rakaat, hingga rakaat terakhir, bayangan wajah teduh Fathan tetap menari - nari dalam benaknya, namun bayangan Mayla dan ke3 anaknya mengiris - ngiris hati Sarah dengan rasa bersalah, hingga usai shalat, Sarah masih terpekur sambil tergugu di sajadahnya, dan berandai - andai, "Andai kita bertemu lebih dulu", "Andai akulah yang temui terlebih dahulu sebelum Mayla, mungkin saat ini kaulah yang mengimami ku shalat, ahhh andai, asaghfirullah...." Sarah terus menerus menyesali semua yang terjadi, namun suara adzan subuh menyadakannya untuk segera shalat dan bertaubat karena telah menggugat takdir Nya.

Selasa, 01 November 2011

Abu..

Malam itu ia mengunjungiku lagi dengan sebuah misi yang di otaki oleh Lelaki menyebalkan itu. Aku menyambutnya dengan suka cita, maklum seminggu sudah kami tak bertemu, meski kami sebelumnya sudah terbiasa tinggal berjauhan, namun selama ia di Jakarta intensitas pertemuan kami memang jadi lebih sering. Kali ini ia menemuiku dengan wajah kusut, kesan tampan khas laki - laki remaja negeri tirai bambu yang biasa nampak pada nya kini tak sedikitpun terlihat. Ada luka yang ku tangkap dari sorot matanya yang sipit namun tajam. Ia nampak sangat kelelahan, tiba ditempat kostku, ia menghempaskan tubuhnya di kasurku, aku tak mengatakan apapun, aku duduk dibawah kasur sambil menonton tivi dan membuka dompetku, beberapa ratus ribu ku keluarkan dari dompetku, lalu tiba - tiba ia terbangun dan membetulkan posisi duduknya.

"Oia, kak, ini es krim pesananmu" ujarnya sambil membuka tas gendong yang ia bawa, ya itu adalah kalimat pertama yang keluar semenjak pertemuan kami kali ini.
"Oh, habis berapa uangmu untuk beli eskrim ini?" tanya ku sambil mengambil satu magnum almond favoriteku.
"Hm, 20ribu kak." Ujarnya singkat sambil mulai melahap eskrimnya.

Aku keluarkan lagi uang 20dua puluh ribuan dan menyerahkannya berikut dengan uang beberapa ratus ribu yang memang menjadi misinya kali ini mengunjungiku. Aku tahu ini bukan keinginannya, jadi aku tetap tak terganggu. Diam - diam aku mengamati ekspresinya saat melahap eskrimnya, ahh, adikku, benarkah kau belum pernah sekalipun mencicipi eskrim ini?maafkan aku karena aku baru bisa membuatmu merasakannya kali ini.ucapku membatin dengan air mata yang mulai menggenang, untung air mata itu tak jadi jatuh karena sebuah acara tv yang sedang kami tonton memecah kesunyian diantara kami. Selama beberapa menitpun kami tertawa - tawa, hanyut oleh acar tv tersebut, namun luka yang dia simpan sungguh tak bisa disembunyikan dlam jangka waktu yang lama, ia kembali terdiam setelah eskrimnya habis, ada sorot mata penuh luka yang tampak dari matanya lagi, entahlah setiap kali ia murung, maka seolah wajah vic zhou pun sirna dari wajahnya. Sesak rasanya, aku tahu itu luka, aku tahu itu air mata tertahan darimu dik, maka ku beranikan bertanya padanya, meski dengan kata yang terbata.

"Ada apa, dik?" tanyaku berusaha sebiasa mungkin.
"Kak, tahukah kau?aku sekarang menjadi seorang anak remaja yang paranoid terhadap ayahku sendiri setiap aku melakukan sedikit saja kesalahan" ujarnya dengan suara parau, seperti tercekat dalam tenggorkannya.
Seketika aku terhenyak, ah adikku, kau terlalu muda untuk merasakan apa yang ku rasakan dulu saat akupun tinggal bersama ayah kita. Maka sekuat hati ku beranikan diri pula untuk bertnya padanya.
"Memang kenapa?ah, maksudku paranaoid gimana?" begitu ujarku tanpa menatap matanya sedikitpun, aku takut air mata kami jatuh, aku tahu sebenarnya dia juga menyadari bahwa aku mengetahui lukanya.
"Kau tahu kan tv di rumah ayah?sering berubah settingannya jika kau tak sengaja menekan tombol yang salah?" ujarnya kemudian, aku mengangguk cepat dan ingatanku pun terbang pada saat dimana aku pernah melakukan kesalahan yang sama seperti adikku, dan ayah kamipun murka bukan main kepadaku, padhal hal itu sangat sepele.
"Iya, kau tahu kan, ayah pasti sangat marah padaku, begitu tahu settingan tv nya berubah?dan kau juga tahu kan, pada saat aku gugup, aku akan semakin sering melakukan kesalahan?maka saking ketakutannya aku, aku menulis semua langkah - langkah untuk mengembalikan settingan tv itu sesuai dengan settingan ayah, sebelum aku merusaknyaa, aku mencatatnya dalam hpku, jadi ketika aku tidak sengaja menekan tombol yang salah, maka aku bisa dengan segera mengembalikannya ke settingan ayah. Kau tahu bagaimana rasanya?itu sangat menakutkan bagiku" Ujarnya dengan senyum getir dan mata memerah karena air matanya menggenang seakan siap tumpah, jujur saja, sebenernya saat itu juga aku ingin sekali memeluknya, menguatkannya agar ia tetap kuat dan sabar menghadapi ketakutan - ketakutan yang ia alami selama tinggal dengan ayah, kau terlalu muda, Abu. Ya terlalu muda untuk mengatasi ketakutanmu sendirian. Aku mengerti perasaan mu Abu, karena sebelum kau, aku juga sudah mengalaminya. Kita tidak bisa menyalahkan siapa - siapa atas sikap ayah, atau memprotes Tuhan karena telah menakdirkan kita sebagai anak dari lelaki kejam itu. Yang bisa kita lakukan hanyalah bersabar, Abu, sabar.
Aku menggenggam tangannya kuat - kuat, ia melihat genangan di sudut mataku yang hendak tumpah, menyadari itu ia langsung menghiburku dengan mengatakan hal - hal lucu yang membuatku urung menangis, lalu dengan lirih ia berkata.
"Aku kuat Kak, asal aku bisa segera pergi dari tempat ayah."
Ya itu yang Abu ucapkan padaku, aku tk bisa menahannya untuk tetap bertahan di Kota ini, meski aku sangat menginginkannya, karena aku tahu kota ini tak lebih dari sekedar sarang duka baginya, ya bersabarlah Abu. Sebelum ia kembali ketempat ayah, aku berpesan padanya agar ia tumbuh menjadi seorang lelaki baik - baik yang penuh ketakutan hanya kepada Tuhan, bukan kepada makhluk seperti ayah kami. Ya Abu, kau adalah harapan pertamaku untuk menjadi tauladan yang baik bagi adik kita Raziq. Bersabarlah Abu.

Rabu, 21 September 2011

Senja di Kuningan (4)

Pagi itu aku langsung tiba di kantor sesuai perintah Mbak Laras, PMku. Dia menatapku sekilas dan memberi kode padaku untuk segera ke ruang meeting mempersiapkan bahan untuk meeting hari ini.
"Sorry yah, Nenk. gw suruh lu balik cepet dari cuti lu, abis lu tau kan gw gak bisa bahasa inggris, ntar gimana kalo gw cengok selama meeting, secara yang datang itu kan langsung dari country management singaporenya." Ucap Mbak Laras saat aku membuka file logistic ku.
"Nggak apa - apa mbak, gw kan bisa cuti lagi nanti." Ujar ku sambil melempar senyum tipis.
Tidak sampai 10 menit, orang vendorpun datang, kami memulai meeting itu.

***********************************************************************
Jam makan siangpun tiba, kabar kedatanganku ke Jakarta ternyata sampai juga ke telinga Mas Andra, dia mengirimiku BBM :

Andra : Kamu uda balik ke jakarta?
Falisha: sudah
Andra: Kok gak bilang aku?
Falisha: Emang kenapa?
Andra: Duh, jangan kayak anak kecil dech.
Falisha: Maksudnya?
Andra: Iya, kamu ngambek gitu sama aku sampe - sampe gak ngasih kabar kamu uda balik.

Aku tertegun, masih memikirkan apa sih yang ada di otaknya itu, bukankah kami sudah putus, dan diapun sudah berkata - kata seolah kami memang sudah berakhir kemarin saat aku di Kuningan, lalu kenapa sekarang dia bersikap seolah tidak ada apa - apa. Lama tak ku balas BBMnya, hingga kemudian...

Andra :PING!!!
Falisha: Kita kan sudah nggak ada hubungan apa - apa lagi kan sejak aku pulang kemarin, jadi kayaknya tidak ada kewajiban buat aku kasih tau kamu apa - apa lagi. 
Andra : Oh, jadi kamu beneran mau putus?!!OK fine, inget yah bukan aku yang mutusin kamu, tapi kamu yang mutusin aku!!jangan nyesel!!


Astagfirullah, ini kah?ini kah laki - laki yang pernah akan menikahiku?laki - laki yang pernah akan menjadi suamiku?begitu arogant dan kekanak - kanakan dalam usianya yang sudah matang. Ya Allah, terimakasih telah membuat kami berpisah, ya hanya itu yang ada difikiranku saat itu, sungguh aku tak habis fikir.
Aku memutuskan untuk pergi makan ke food court dekat kantorku bersama Mbak Laras, mencoba menikmati menu makan siangku hari itu.
"Eh, nenk. btw itu cincin lu mana say?yang dari Andra?" Ucap Mbak Laras saat aku meneguk jus alpukat ku hingga aku nyaris tersedak. Aku tak menjawab dan hanya tersenyum penuh arti padanya, seolah memahamiku, Mbak laraspun berujar.
"Bagus dech nenk, jujur aja sih, sebenernya waktu lu cerita mau seriusan sama si Andra, dan gw juga ketemu sama dia, gw udah gak suka lu sama dia, Nenk." ujar Mbak laras membuatku bingung, "Lah emang kenapa, Mbak?kenapa mbak nggak bilang sama aku?" tanyaku cepat.
"Iya, dia itu gimana yah, arrogant nya keliatan banget. Ya pkoknya gw gak sreg aja gitu waktu lu kasih tahu, gw pengen kasih tahu lu, tapi gw gak enak sama lu, gw fikir nanti aja dech gw kasih tau gitu, tapi syukur dech kalo lu putus, heheh" jawab Mbak Laras yang mendukung keputusanku mengakhiri hubunganku dengan Mas Andra, lalu tiba - tiba sebuah sms masuk ke HP ku.

Bagus dech kalo akhirnya kalian putus, karena saya juga gak akan pernah ridho kalo kalian menikah nanti, My son is more precious than everything, and he deserve with someone better than you!!! -080000XXX-

Tenggorokanku tercekat, seperti ada duri rasanya, sakit aku membaca smsnya, meski tidak ada nama pengirimnya, tapi aku tahu siapa pengirim sms itu, air mataku menggenang seakan siap tumpah, Mbak Laras memergoki aku yang hendak menangis, ia bangkit dari tempat duduknya dan meraih Hp ku, lalu kemudian beristighfar dan memelukku erat, ya tangisku pecah saat ia memeluku, bahuku berguncang, kini mereka yang tak menyukai hubunganku dengan Mas Andra bisa bahagia kami telah berakhir. Lama aku dan Mbak Laras di food court itu, hingga kemudian kamu memutuskan untuk kembali ke kantor setelah aku merasa lebih baik. Hari itu juga, aku memutuskan untuk memulai hidup baruku, hal pertama yang aku lakukan adalah mendelete PIN BB Mas Andra, lalu akupun mengganti SIM cardku, semua akses yang memungkinkan menghubungkanku dengan Mas Andra dan keluarganya aku tutup, hal ini ku maksudkan agar kami tidak lagi bersinggungan demi kedamaian bersama. Aku terlalu terpukul, terlalu trauma untuk berkaitan lagi dengan Mas Andra ataupun keluarganya. Malam hari saat aku tiba di kostanku, sebuah BBM masuk, ah mbak Laras rupanya.

Larasati _DEF : Fal, lu besok boleh cuti lagi 3 hari, kali ini gw yang ngajuin sama Mr. Jang, dan udah di Acc sama beliau, have a nice hoiday ya dear!!be strong!! you deserve with someone the best!! *hug

Ahhh ingin memeluk Mbak Laras rasanya saat ia mengabarkan hal itu, lalu dengan cepat ku ketik BBM untuknya.

Falisha: Ah, mbak ku sayang, tengkiyu berat yah. *hug

 Aku segera mengontak PO bus langgananku, ku cek jadwal keberangkatan jam 3pagi ke kuningan, agar aku bisa sampai di kuningan pagi itu juga, dan alhamdulillah ternyata ada, aku segera berkemas dan mengabari orang tuaku di kuningan.

**************************************************************************
Orang tuaku nampak gembira melihat kepulanganku kembali ke kuningan, meskipun sangat melelahkan bagiku, tapi aku rasa lebih saat ini aku lebih baik berada di kuningan, daripada di jakarta. Fatur mengajakku menghadiri sebuah acara talk show remaja yang diadakan di Mesjid Agung Kuningan Syiarul Islam, maklum fatur hari itu tampil sebagai tim nasyid pengisi acaranya, tanpa fikir panjang, akupun mengiyakan. Siang itu tanpa sempat beristirahat, aku menemai fatur ke acara itu, namun sesampainya di Mesjid Agung, kami berpisah, karena dia harus GR di sekretariat mesjid itu, baiklah aku pun langsung menuju lantai 2 untuk melaksanakan shalat dzuhur, karena tadi aku tak sempat sholat di rumah. Lalu saat ku tapaki anak tangga demi anak tangga,lamat - lamat aku mendengar suara anak kecil yang sedang menangis.Ku cari arah suara tangisan itu, ahh ketemu, dibalik pintu kaca mesjid itu seorang anak kecil laki - laki sedang memeluk lututnya sambil terus menyeka air matanya, tanpa fikir panjang, aku segera menghampirinya.
"Aduh, ade kenapa sayang?" ucapku lembut sambil menyentuh bahunya, ya tak lebih dari 5 tahun pasti anak ini.
"Ami lasya mana, Amah?" ujarnya dengan terbata - bata mentapku, ah tapi Ami?ami siapa?akut tidak mengenalnya, lalu Amah, dia memanggilku amah, mungkin karena dia cadel jadi dia memanggilku Amah, yang dia kira mama nya, begitu fikirku.
"Kamu namanya siapa syang?" tanyaku kemudian sambil berusaha membuatnya berhenti menangis.
"Aku, Lasya, amah" katanya sambil kemudian memelukku seperti menemukan orang yang aman.
"Lasya kesini sama siapa tadi, sayang?uda berapa jam disini terus?" tanya ku kemudian.
"Tadi aku kesini sama Amiku, gak tau dali jam belapa" ucapnya dengan cadelnya sambil mendongakan wajahnya menatapku setelah berhenti menangis.
"Hmmm, emang si ami lagi kemana sayang?" tanya ku lagi.
"Tadi Ami lagi baca qul'an ditempat sholat, telus aku lali - lali aja, eh kejauhan, pas aku balik ke ami lagi, aminya nggak ada." ujarnya polos.
Aku menghela nafas, bingung mau mencari kemana si Ami itu agar rasya bisa betemu dengan si Ami. Ku edarkan pandangan ke sekeliling mesjid, ku cari sosok Ami itu, yang ada dibenakku adalah laki - laki atau perempuan yang mungkin masih ABG karena, rasya memanggilnya tanpa sebutan aa atau teteh. Ku lirik jam di lengan kiriku, astagfirullah sudah jam satu dan aku belum sholat dzuhur, ku tuntun Rasya ke tempat sholat perempuan, sambil berpesan padanya untuk tidak beranjak dari sampingku selama aku sholat jika ingin ku bantu menemukan si Ami itu. Rasya pun mengangguk cepat dan menuruti kata - kataku. Selesai sholat, aku menatap rasya yang mengamati sekelilingnya, sepertinya masih mencari - cari sosok si ami. Lalu saat aku hendak mengajak Rasya mengelilingi mesjid untuk mencari si Ami, terdengar suara dari speaker di lantai satu mesjid agung,
"Mohon bantuannya kepada siapapun yang menemukan seorang anak laki - laki yang kurang lebih berumur 5tahun, dan memiliki tahi lalat di dagunya, dan bernama Muhammad Rasya, harap untuk segera mendatangi sekretariat mesjid agung di lantai satu." aku langsung melirik rasya, ah iya dia memang sosok yang dicari, namun mengapa suara laki - laki yang mengumumkan hal tadi membuat jantungku berdegup lebih kencang yah. Aku langsung membawa rasya ke lantai satu seperti yang di announce tadi, ku lihat beberapa remaja seusia fatur sedang berkumpul di depan sekretariat remaja mesjid mesjid Agung, ku lihat seseorang menghampiri kami, pria berkacamata minus...

Sabtu, 06 Agustus 2011

Senja di Kuningan (3)

Pagi ini aku mengajak adikku Fatur untuk berjalan - jalan pagi selepas subuh, kami berjalan tanpa menggunakan alas kaki dan mengelilingi kampung, hahhh sungguh sejuk udara pagi ini di Kuningan.
"Teh, teteh sakit yah?" ujar Fatur yang hanya selisih 2 tahun denganku, saat kami melewati sebuah balai desa.
"Hah?enggak kok Dek, kan kamu liat sekarang teteh sehat begini,aneh dech kamu Dek" ujarku bingung dengan pertanyaan adikku, lalu ketika Fatur hendak menjawab pertanyaanku, Hp nya berderit, sebuah telpon masuk ke Hpnya. Seklilas aku dengar Fatur bicara dengan seseorang yang nampaknya telah lama tak berjumpa dengannya, mungkin kakak kelasnya, karena beberapa kali aku mendengar Fatur memanggil sosok dibalik telepon itu dengan sebutan, "Akang". Cukup lama mereka berbincang, aku dan Fatur tetap melanjutkan jalan - jalan pagi kami, meski Fatur nampak agak menjauh dariku, mungkin sedang membicarakan hal yang rahasia fikirku. Lalu beberapa menit kemudian, Fatur menyusul langkahku, karena tadi ia tertinggal di belakangku.
"Teh, tungguin atuh, cepet banget jalannya" Ucapnya tergopoh - gopoh.
"Ah kamunya aja lama tuh, kenapa?kok kamu tanya soal kesehatan teteh?" Tanya ku kemudian.
"Gak apa - apa, Fatur lihatnya teteh kayak orang lagi banyak beban gitu, teteh kan gampang sakit, tapi kayaknya sekarang yg lagi sakit bukan jasmani teteh, tapi hati teteh, yah?" tanya Fatur sambil menghentikan langkahnya. Aku menatapnya sekilas, lalu mengulas senyum tipis dan kembali melanjutkan langkah kakiku yang tadi sempat terhenti sambil berujar.
"Ah, emank teteh kelihatan semenyedihkan itu ya De?teteh baik - baik aja kok" ucapku klise, yah there's always PAIN behind I'm Ok. Fatur nampak tak puas dengan jawabanku, ia menyusul langkahku lagi.
"Hahh, yaudah lah kalo gak mau ngaku, ayo buruan jalannya teh, fatur mau pergi nih ada janji sama temen." ucapnya mempercepat langkahnya.
"heh?ada janji?cieee sama siapa nih?kenalin donkkk?hahhaha" ucapku sambil tertawa ringan menggoda adikku.
"Idih apaan sih?eh beneran nih mau aku kenalin?ikhwan loh, tapi dia uda punya akhwat inceran sih, ini mau bantuin dia ta'aruf" ucap fatur sambil setengah berlari.
OOOo, bibirku membulat, fikirku betapa beruntungnya akhwat itu hendak ta'aruf dengan seorang ikhwan.
"Temen sekolah kamu, Dek ikhwannya?" tanya ku penasaran.
"Oh, bukan, dia Murobiku dulu teh waktu kelas 1 SMA". ucap Fatur
"lah kok minta tolong kamu?emang dia gak punya wali?" tanyaku penasaran lagi.
"Punya, cuman kan kami memang dekat teh, lagipula katanya akhwat itu tinggal disekitar lingkungan rumah kita, teh" Ucap Fatur sambil terlihat bingung.
"Oh, yah siapa?Si Vira yah?apa Nadya?perasaan akhwat di daerah rumah kita mah jarang dech ya de?" Tanyaky semakin penasaran."
"Idih apaan sih teteh Kepo begitu, hhahaha, itu dia justru Murobiku itu gak tahu namanya siapa." Jawab fatur
iya juga yah kalo difikir - fikir kenapa aku jadi kepo dengan urusan orang lain?tapi aku memang selalu ikut bahagia ketika ada kabar ukhti - ukthi yang ku kenal akhirnya sedang berproses dengan seorang ikhwan, meskipun selalu ada sedikit iri terselip disana, iri ingin segera menggenapkan separuh diin.
Kami akhirnya sampai di rumah, Fatur segera bersiap pergi menuju tempat janjiannya dengan murobinya, sementara aku, ibu dan adik bungsuku Dimas sedang menikmati sarapan dan sudah rapi dengan seragam SMP barunya, maklum dia baru saja masuk SMP. Aku tersenyum melihat betapa lahapnya adik gendutku yang cerdas itu. Sementara ibu tetap dingin menyantap sarapannya. Tiba - tiba Hplu berderit, sebuah BBM masuk.

Larasati_DEF  : Fal, besok pagi, lu harus udah ada di kantor yah, kita ada meeting sama vendor singapore.
Falisha             : Hah?mana bisa Mbak, aku kan cuti sampe Rabu.
Larasati_DEF: Aduh, Fal no complain dech, pokoknya gw gak mau tahu, besok pagi you HAVE TO here!!

Aku merasa berat untuk segera kembali ke Jakarta secepat itu sesuai perintah Managerku, tapi itu perintah dan aku harus segera pulang hari ini juga, mengingat perjalanan kuningan - jakarta yang menghabiskan waktu 6 jam. Aku segera berkemas demi mengejar bus yang berangkat ba'da dzuhur. Ayah ibu ku keheranan dengan keberangkatanku ke jakarta yang dipercepat. Setelah berkemas, dan selesai shalt dzuhur, aku ditemani ayah dan ibu ku menunggu bus didepan gang rumah kami.

"Fal, gak usah sedih yah, kalo Gusti Allah sekarang memisahkan kamu sama Andra, itu karena Dia tahu bahwa tidak akan ada kebaikan dari hubungan kalian bila diteruskan." Ucap ayah memberiku wejangan, aku tertunduk lesu, ahh ayah seandainya kau tahu akupun berfikiran seperti itu.
"Insya Allah, Allah sudah sediakan jodoh terbaik Nya buat kamu, ini pelajaran buat ayah agar tidak terlalu mudah lagi untuk menerima pinangan seseorang, maafin ayah yah, nak. Jadi membuatmu terluka." Ucap ayah dengan suara yang sepertinya tercekap di tenggorokan.
Aku terhenyak, ah ayah mengapa ayah jadi merasa bersalah atas lukaku ini, aku mencium punggung tangannya dan juga ibu bergantian saat bus muncul sambil berujar, "Ayah dan Ibu tidak perlu minta maaf atas luka fal saat ini, karena ini bukanlah kesalahan siapa - siapa, Fal mungkin nampak rapuh sekarang, tapi bukan berarti Fal tidak bisa sembuh dan bangkit dari keterpurukan ini. Mohon do'anya saja untuk yang terbaik Yah, bu." ucapku ibu menangis melepasku sambil menciumi pipiku. Aku berusaha tetap tersenyum, tak mau ikut menangis, tangisku hanya akan mempertegas lukaku saja dimata mereka.
Aku duduk di bangku belakang bus karena hari itu bus agak penuh sesak, beruntung aku masih dapat tempat duduk, selama perjalanan aku membaca mushaf kecilku untuk mengusir kebosanan dan ke gundahanku.
6 Jam berlalu, aku sudah sampai di tempat kostku ku lihat ada sebuah sms masuk dari Fatur.

Pulang hari ini kok gak bilang - bilang sih?btw teteh kenal sama kang fayaz yah? - Faturraziq-

Ah, lagi - lagi fayaz, dia itu siapa sih fikirku, kemarin ustadz Abdulah, sekarang si fatur.

hehhe, maaf adikku sayang, teteh mendadak disuruh balik ke jkt. Fayaz siapa sih?teteh gak kenal. -Falisha-

 Oh gak kenal yah?gak apa - apa sih. Teteh yakin gak pernah ketemu?-Faturraziq-

ABSOLUTELY, dear!! :D - Falisha-
Pungkasku sambil membenamkan wajahku di bantal, tidur sambil bergumam, ah fayaz itu siapa sih.